[Medan | 23 Juli 2026] Pergerakan pasar keuangan domestik cenderung bervariasi pada perdagangan Rabu (22/7/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi tipis setelah mencatat reli panjang, sementara nilai tukar rupiah justru mampu melanjutkan penguatannya terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Memasuki perdagangan Kamis (23/7/2026), perhatian investor akan tertuju pada respons lanjutan pasar terhadap keputusan Bank Indonesia (BI) yang mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75%, di tengah lonjakan harga minyak dunia yang kembali menembus US$95 per barel akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
IHSG Akhiri Reli Panjang
IHSG mengakhiri tren penguatan selama sembilan hari berturut-turut setelah ditutup melemah tipis 0,09% ke level 6.334,47. Sepanjang sesi perdagangan, indeks sempat menyentuh level tertinggi di 6.394,68 sebelum akhirnya berbalik ke zona merah menjelang penutupan.
Meski terkoreksi, aktivitas perdagangan masih tergolong tinggi. Volume transaksi mencapai 44,63 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp18,52 triliun serta frekuensi perdagangan mencapai 2,70 juta kali. Di sisi lain, investor asing kembali membukukan aksi jual bersih (net sell) sebesar Rp920,23 miliar, menunjukkan masih adanya aksi ambil untung setelah reli yang cukup panjang.
Rupiah Tetap Menguat
Berbeda dengan pasar saham, rupiah berhasil mencatat penguatan tipis sebesar 0,03% ke level Rp17.875 per dolar AS. Padahal, pada awal perdagangan mata uang Garuda sempat melemah hingga Rp17.920 per dolar AS. Penguatan pada penutupan membuat rupiah mencatat apresiasi selama dua hari berturut-turut.
Stabilnya rupiah terjadi setelah Bank Indonesia memutuskan mempertahankan BI Rate di level 5,75%. Selain itu, suku bunga Deposit Facility tetap berada di 4,75%, sedangkan Lending Facility dipertahankan di level 6,50%. Keputusan tersebut diambil setelah BI sebelumnya menaikkan suku bunga secara agresif sebesar 100 basis poin sejak Mei 2026 guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Sementara itu, pasar obligasi cenderung bergerak terbatas. Imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun bertahan di level 7,297%, mencerminkan sikap wait and see pelaku pasar terhadap arah kebijakan moneter berikutnya.
Harga Minyak Sentuh Level Tertinggi Enam Pekan
Dari pasar global, perhatian investor kembali tertuju pada lonjakan harga minyak dunia. Harga minyak Brent ditutup naik 3,4% menjadi US$94,07 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) menguat 1,3% menjadi US$87,45 per barel. Dalam perdagangan intraday, Brent bahkan sempat menembus US$95 per barel untuk pertama kalinya dalam enam pekan terakhir.
Kenaikan tersebut dipicu meningkatnya eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Militer AS kembali melancarkan serangan ke Iran untuk malam ke-11 berturut-turut, sementara Iran terus mengancam akan mengganggu pelayaran di Selat Hormuz. Di saat yang sama, kelompok Houthi juga meningkatkan ancaman terhadap kapal-kapal pengangkut minyak Arab Saudi di Selat Bab el-Mandeb.
Goldman Sachs bahkan memperkirakan harga minyak berpotensi melonjak hingga US$120 per barel apabila jalur distribusi energi melalui Selat Hormuz belum kembali normal hingga akhir tahun.
Sementara itu, Direktur Eksekutif International Energy Agency (IEA), Fatih Birol, mengatakan pasar energi masih tertolong oleh pelepasan cadangan minyak strategis serta peningkatan produksi dari beberapa negara. Namun, ia menegaskan kondisi pasar tetap rapuh selama konflik belum mereda.
Data Persediaan Minyak Beri Sinyal Beragam
Laporan Energy Information Administration (EIA) menunjukkan total cadangan minyak Amerika Serikat turun menjadi level terendah sejak 1984. Meski demikian, stok minyak mentah komersial justru meningkat sekitar dua juta barel menjadi 411,7 juta barel, berlawanan dengan ekspektasi pasar yang sebelumnya memperkirakan penurunan persediaan.
Di sisi lain, ekspor minyak AS mengalami penurunan, sementara impor kembali meningkat. Aktivitas kilang juga sedikit melambat dengan tingkat utilisasi turun menjadi 96,1%. Data tersebut menunjukkan pasokan energi global masih berada dalam kondisi yang rapuh sehingga pergerakan harga minyak diperkirakan tetap sangat sensitif terhadap perkembangan konflik geopolitik.
BI Perkuat Stabilitas Rupiah Lewat Insentif
Selain mempertahankan suku bunga acuan, Bank Indonesia juga mengumumkan sejumlah insentif baru untuk memperkuat aliran modal asing serta menjaga stabilitas rupiah. Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan kebijakan tersebut diarahkan untuk meningkatkan investasi portofolio asing, memperdalam pasar uang dan pasar valuta asing, serta menjaga likuiditas sistem keuangan.
Di saat yang sama, kebijakan makroprudensial tetap dipertahankan longgar guna mendorong pertumbuhan kredit ke sektor riil tanpa mengabaikan stabilitas sistem keuangan. BI juga terus memperkuat digitalisasi sistem pembayaran guna mendukung aktivitas ekonomi domestik.
Outlook IHSG
Secara teknikal, IHSG membentuk pola morning star doji, namun masih gagal menembus area resistance kuat di kisaran 6.400. Koreksi yang terjadi juga disertai volume transaksi yang relatif besar serta aksi jual bersih investor asing yang mendekati Rp1 triliun.
Kondisi tersebut membuka peluang terjadinya koreksi sehat dalam jangka pendek menuju area 6.280–6.370, dengan level support terdekat berada di sekitar 6.250. Apabila tekanan jual mulai mereda, IHSG masih berpeluang kembali menguji area resistance 6.400.
Di sisi lain, keputusan BI mempertahankan suku bunga memberikan kepastian terhadap arah kebijakan moneter domestik. Namun, ruang penguatan indeks diperkirakan masih akan dipengaruhi oleh perkembangan konflik di Timur Tengah yang terus mendorong harga minyak dunia bergerak lebih tinggi.

