[Medan | 23 Juli 2026] Harga minyak dunia kembali melonjak ke level tertinggi dalam hampir enam pekan setelah meningkatnya eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi dari Timur Tengah semakin besar seiring ancaman terhadap dua jalur pelayaran minyak paling strategis di dunia, yakni Selat Hormuz dan Selat Bab el-Mandeb.
Pada perdagangan Rabu (22/7/2026), harga minyak mentah Brent kontrak September 2026 naik 4,2% menjadi US$94,83 per barel, setelah sempat menyentuh level intraday US$95,24 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak September menguat 4,33% menjadi US$87,99 per barel. Kedua acuan minyak tersebut mencatat level tertinggi sejak pertengahan Juni lalu.
Konflik AS-Iran Semakin Meningkat
Lonjakan harga minyak dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik setelah militer Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap Iran untuk malam ke-11 secara berturut-turut. Serangan tersebut terjadi tidak lama setelah otoritas militer Kuwait mengumumkan berhasil mencegat sejumlah drone yang diduga berasal dari Iran. Situasi tersebut kembali meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap keamanan jalur distribusi energi global, khususnya di kawasan Teluk Persia yang menjadi pusat ekspor minyak dunia.
Bab el-Mandeb Jadi Titik Risiko Baru
Selain ketegangan di Selat Hormuz, pasar kini juga mulai mencermati meningkatnya risiko di Selat Bab el-Mandeb. Kelompok Houthi yang didukung Iran mengumumkan blokade laut terhadap Arab Saudi sekaligus mengancam akan menyerang kapal-kapal yang mengangkut minyak Saudi di jalur tersebut.
Kepala Analis Pasar KCM Trade, Tim Waterer, mengatakan perhatian pelaku pasar kini tidak lagi hanya tertuju pada Selat Hormuz. Menurutnya, Selat Bab el-Mandeb berpotensi menjadi titik risiko baru yang dapat mengganggu distribusi minyak global apabila konflik terus meningkat.
Kapal Tanker Mulai Alihkan Jalur
Meningkatnya ancaman keamanan membuat sejumlah kapal tanker minyak mulai mengubah rute pelayaran. Beberapa kapal yang membawa minyak mentah Arab Saudi menuju China dan India dilaporkan berbalik arah di Laut Merah untuk kemudian melintasi Terusan Suez, menghindari perairan di sekitar Yaman.
Analis pasar Naga.com, Frank Walbaum, menilai perubahan jalur pengiriman tersebut berpotensi memperketat pasokan minyak fisik dan mengganggu ekspor Arab Saudi apabila situasi keamanan terus memburuk. Sebagai respons, sejumlah kilang di Asia juga mulai menyusun kembali jalur impor minyak mentah melalui Terusan Suez maupun memutar melewati Tanjung Harapan di Afrika.
Pasar Tetap Pantau Data Persediaan Minyak AS
Di tengah meningkatnya risiko geopolitik, pasar juga mencermati perkembangan pasokan minyak dari Amerika Serikat. Data American Petroleum Institute (API) menunjukkan persediaan minyak mentah dan produk distilat AS meningkat pada pekan lalu, sementara stok bensin justru mengalami penurunan.
Pelaku pasar kini menunggu rilis data resmi dari Energy Information Administration (EIA) untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai kondisi keseimbangan pasokan dan permintaan energi di negara konsumen minyak terbesar dunia tersebut.

