IkutinIkutinIkutin
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
  • Komunitas Petik Profit ➜
IkutinIkutin
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
  • Komunitas Petik Profit ➜
Jelajah
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
  • Komunitas Petik Profit ➜
Follow US
2024 ©️ Fawz Finansial Indonesia. All Rights Reserved.
Ekonomi

BI Diproyeksi Tahan Suku Bunga di RDG Besok (19/8)

By Aurelia 1 day ago Ekonomi
Image source: AP/ kumparan.com
SHARE

[Medan | 18 Agustus 2026] Bank Indonesia (BI) diperkirakan masih mempertahankan suku bunga acuan BI Rate di level 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang berlangsung 18-19 Agustus 2026. Fokus pasar bukan hanya pada keputusan suku bunga, tetapi juga pada arah kebijakan BI dalam menjaga stabilitas rupiah di tengah ketidakpastian global.

Lead Economist Bank Danamon Indonesia Irman Faiz mengatakan skenario dasar pihaknya masih menunjukkan BI akan menahan BI Rate pada level 5,75%. Menurutnya, penguatan rupiah dalam beberapa waktu terakhir serta kondisi makroekonomi global yang relatif membaik membuat BI belum memiliki urgensi untuk menaikkan suku bunga.

Rupiah sendiri ditutup menguat pada perdagangan Senin (17/8/2026) di level Rp17.798 per dolar AS. Posisi tersebut menguat 0,16% dibandingkan penutupan Jumat (14/8/2026) di level Rp17.827 per dolar AS.

Inflasi AS dan Tenaga Kerja Beri Ruang bagi BI

Perkembangan ekonomi Amerika Serikat juga menjadi salah satu faktor yang memberikan ruang bagi BI untuk mempertahankan suku bunga. Inflasi AS yang relatif terkendali serta data ketenagakerjaan yang melemah membuat penguatan dolar AS tertahan. Kondisi tersebut turut mengurangi tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Irman menilai BI masih dapat menjaga stabilitas rupiah melalui intervensi dan berbagai instrumen stabilisasi tanpa harus menaikkan suku bunga. 

Namun, arah kebijakan BI belum sepenuhnya berubah menjadi dovish. BI masih memiliki bias hawkish apabila tekanan terhadap rupiah kembali meningkat secara signifikan. “Kami masih melihat ruang kenaikan suku bunga di paruh dua 2026 ini apabila tekanan rupiah kembali meningkat, dengan terminal rate kami di 6,25% pada akhir tahun,” kata Irman. Artinya, keputusan menahan BI Rate pada Agustus tidak serta-merta menutup peluang kenaikan suku bunga pada bulan-bulan berikutnya.

Fokus BI Beralih ke Kebijakan Non-Suku Bunga

Dari sisi domestik, tekanan inflasi dinilai masih relatif terkendali. Di sisi lain, pertumbuhan ekonomi dan konsumsi mulai menunjukkan moderasi sehingga belum terdapat tekanan permintaan yang cukup kuat untuk mendorong kenaikan suku bunga. Karena itu, BI diperkirakan lebih mengandalkan bauran kebijakan non-suku bunga untuk menjaga stabilitas rupiah.

Risiko utama justru berasal dari faktor eksternal, mulai dari arah kebijakan Federal Reserve (The Fed), imbal hasil US Treasury, pergerakan dolar AS, harga minyak, hingga keberlanjutan arus modal asing. Selama tekanan terhadap rupiah masih dapat dikelola melalui instrumen stabilisasi, BI dinilai memiliki alasan kuat untuk mempertahankan BI Rate di 5,75%.

Intervensi Valas dan SBN Jadi Senjata BI

Untuk menjaga rupiah, BI diperkirakan tetap mengombinasikan kebijakan suku bunga dengan intervensi di pasar valuta asing dan pasar surat berharga. Instrumen seperti pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), serta pasar Surat Berharga Negara (SBN) dinilai tetap penting untuk meredam volatilitas rupiah.

Namun, intervensi saja tidak cukup. BI juga perlu memperkuat underlying transaksi valas, menyediakan instrumen hedging yang lebih kompetitif, serta menjaga daya tarik aset berdenominasi rupiah bagi investor asing. Hal ini menjadi penting karena ruang BI untuk menurunkan atau menaikkan suku bunga akan sangat bergantung pada kondisi rupiah dan stabilitas pasar keuangan.

Rupiah Masih Berisiko Volatil di Kuartal III

Meskipun rupiah saat ini berada di bawah Rp18.000 per dolar AS, tekanan terhadap mata uang domestik masih berpotensi kembali muncul pada kuartal III-2026. Ketidakpastian geopolitik, arah kebijakan The Fed, pergerakan yield US Treasury, serta harga minyak menjadi sejumlah faktor yang dapat meningkatkan volatilitas rupiah.

Danamon memperkirakan rupiah masih bergerak di level yang relatif lemah sepanjang kuartal III dengan rata-rata sekitar Rp18.130 per dolar AS. Namun, kondisi diperkirakan membaik memasuki kuartal IV apabila tensi geopolitik mulai mereda.

 

 

You Might Also Like

BI Tahan Lagi Suku Bunga di Level 5,75%!

Utang Luar Negeri RI Tumbuh 4,4% YoY, Tembus USD 453,4 M di Q2-2026

Ada RDG BI Hari Ini, Suku Bunga Diproyeksi Tahan di Level 5,75%

Prabowo Tetapkan Lokasi PFII di Jakarta dan Bali

Trump Tak Mau Perpanjang Kesepakatan dengan Iran, Harga Minyak Tembus US$ 90 Lagi!

TAGGED: RDG BI, suku bunga BI
Aurelia August 18, 2026 August 18, 2026
Previous Article Trump Tak Mau Perpanjang Kesepakatan dengan Iran, Harga Minyak Tembus US$ 90 Lagi!
Next Article Prabowo Tetapkan Lokasi PFII di Jakarta dan Bali
Leave a comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

IkutinIkutin
Mentari Greenwich B7-8, Jl. Letda Sujono No.64, Bandar Selamat, Kec. Medan Tembung, Kota Medan, Sumatera Utara 20223
adbanner
AdBlocker Terdeteksi
Kami dengan hormat meminta Anda mempertimbangkan untuk memasukkan situs web kami ke dalam daftar putih AdBlocker, karena situs tersebut beroperasi dengan dukungan iklan. Keputusan Anda untuk memasukkan situs kami ke dalam daftar putih akan memberikan kontribusi besar dalam mempertahankan operasinya.
Okay, I'll Whitelist
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?