[Medan | 18 Agustus 2026] Harga minyak mentah kembali menguat setelah prospek penyelesaian konflik Amerika Serikat (AS)-Iran semakin meredup. Pernyataan Presiden Donald Trump yang tidak berminat memperpanjang kesepakatan dengan Teheran meningkatkan kekhawatiran pasar bahwa gangguan pasokan energi dari Timur Tengah akan berlangsung lebih lama.
Minyak mentah Brent kembali menembus US$90 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) bergerak mendekati US$85 per barel. WTI untuk pengiriman September naik 0,5% menjadi US$84,95 per barel pada pukul 06.01 waktu Singapura. Sementara Brent untuk pengiriman Oktober melonjak 2,7% menjadi US$90,87 per barel.
Kesepakatan AS-Iran Berakhir
Kenaikan harga minyak terjadi setelah nota kesepahaman yang ditandatangani AS dan Iran pada Juni secara teknis berakhir pada Senin (17/8/2026). Trump menyatakan tidak berminat memperpanjang kesepakatan tersebut. Kedua negara juga masih memiliki perbedaan pandangan yang cukup tajam mengenai sejumlah isu, termasuk masa depan Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi salah satu titik penting perdagangan energi global.
Berakhirnya kesepakatan tersebut membuat pasar kembali memperhitungkan risiko bahwa konflik AS-Iran dapat berlangsung lebih lama. Kekhawatiran tersebut diperkuat oleh pernyataan sejumlah pejabat AS. Menteri Energi Chris Wright mengatakan Washington sedang menjalankan strategi jangka panjang terhadap Iran, sementara utusan Jared Kushner menyampaikan bahwa Trump akan bersabar dalam proses negosiasi.
Artinya, pasar belum melihat adanya katalis kuat yang dapat memastikan normalisasi hubungan kedua negara dalam waktu dekat.
Selat Hormuz Jadi Kunci
Bagi pasar minyak, persoalan utama bukan hanya apakah perang AS-Iran berlanjut, tetapi juga seberapa besar gangguan terhadap arus minyak melalui Selat Hormuz. Selat tersebut merupakan jalur strategis bagi pengiriman minyak dari negara-negara produsen di Teluk Persia menuju pasar global. Menariknya, sejumlah produsen mulai mencari cara untuk mengurangi ketergantungan terhadap jalur tersebut.
Arab Saudi kini menawarkan kargo minyak dari wilayah di luar titik penyempitan Selat Hormuz. Langkah ini menunjukkan produsen Teluk mulai beradaptasi untuk menjaga aliran ekspor meskipun risiko geopolitik masih tinggi. Uni Emirat Arab sebelumnya juga telah melakukan langkah serupa.
Jika produsen berhasil mempertahankan ekspor melalui jalur alternatif, tekanan terhadap pasokan global dapat sedikit diredam. Namun, setiap eskalasi baru yang mengganggu jalur pelayaran tetap berpotensi memberikan shock terhadap harga minyak.
Harga Minyak Sudah Naik Hampir 50%
Harga minyak telah melonjak hampir 50% sejak awal tahun akibat konflik yang berkepanjangan dan gangguan terhadap aliran energi dari Timur Tengah. Kenaikan tersebut membuat minyak kembali menjadi salah satu risiko utama bagi perekonomian global.
Harga energi yang lebih tinggi dapat meningkatkan biaya transportasi, produksi dan logistik. Jika kenaikan tersebut berlangsung cukup lama, dampaknya dapat diteruskan kepada konsumen melalui kenaikan harga barang dan jasa.
Situasi tersebut menjadi semakin penting karena pasar global sebelumnya mulai mendapatkan kabar positif dari sisi inflasi AS. Jika harga minyak kembali naik secara signifikan, tekanan inflasi berpotensi kembali meningkat dan mempersempit ruang Federal Reserve (The Fed) untuk melonggarkan kebijakan moneter.
Dampak ke The Fed dan Yield Treasury
Kenaikan harga minyak memiliki implikasi langsung terhadap ekspektasi suku bunga global. Inflasi AS sebelumnya menunjukkan tanda-tanda lebih terkendali. Namun, lonjakan harga energi dapat kembali meningkatkan tekanan inflasi headline dan berpotensi memengaruhi ekspektasi inflasi ke depan.
Bagi The Fed, kondisi tersebut menciptakan dilema. Di satu sisi, perlambatan pasar tenaga kerja memberikan alasan untuk mempertimbangkan kebijakan yang lebih longgar. Di sisi lain, kenaikan harga energi dapat membuat inflasi kembali sulit turun menuju target. Jika pasar mulai mengurangi ekspektasi penurunan suku bunga, yield Treasury berpotensi kembali naik dan memberikan tekanan terhadap aset emerging market, termasuk rupiah dan SUN.

