IkutinIkutinIkutin
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
  • Komunitas Petik Profit ➜
IkutinIkutin
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
  • Komunitas Petik Profit ➜
Jelajah
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
  • Komunitas Petik Profit ➜
Follow US
2024 ©️ Fawz Finansial Indonesia. All Rights Reserved.
Ekonomi

Utang Luar Negeri RI Tumbuh 4,4% YoY, Tembus USD 453,4 M di Q2-2026

By Aurelia 18 mins ago Ekonomi
Image source: AP/ beritasatu.com
SHARE

[Medan | 19 Agustus 2026] Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia kembali meningkat pada kuartal II-2026. Bank Indonesia (BI) mencatat posisi ULN mencapai US$453,4 miliar, tumbuh 4,4% secara tahunan (yoy). Kenaikan terutama berasal dari ULN sektor publik, sementara ULN swasta masih mengalami kontraksi meski penurunannya mulai melambat.

ULN pemerintah tercatat sebesar US$216,3 miliar, tumbuh 2,9% yoy, melambat dibandingkan pertumbuhan 3,8% pada kuartal I-2026. BI menyebut peningkatan tersebut terutama dipengaruhi oleh aliran dana asing ke Surat Berharga Negara (SBN).

Menurut BI, kondisi tersebut mencerminkan masih terjaganya kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia. Pemerintah juga terus berkomitmen menjaga pembayaran pokok dan bunga utang serta mengelola ULN secara pruden dan terukur.

ULN Pemerintah Masih Didominasi Utang Jangka Panjang

Dari sisi penggunaan, ULN pemerintah diarahkan untuk membiayai sejumlah sektor produktif dan pelayanan publik. Porsi terbesar digunakan untuk sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial sebesar 22%, diikuti administrasi pemerintah, pertahanan dan jaminan sosial wajib sebesar 20,6%, pendidikan 16,2%, konstruksi 11,5%, serta transportasi dan pergudangan sebesar 8,5%.

BI menilai posisi ULN pemerintah masih relatif aman karena hampir seluruhnya merupakan utang jangka panjang. Artinya, risiko tekanan pembayaran dalam jangka pendek relatif lebih rendah. Selain pemerintah, posisi ULN bank sentral juga meningkat. Kenaikan terutama berasal dari bertambahnya kepemilikan investor non-residen terhadap instrumen moneter Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Hal ini sejalan dengan kebijakan operasi moneter BI yang semakin pro-market sekaligus digunakan untuk membantu menjaga stabilitas rupiah di tengah ketidakpastian global.

ULN Swasta Mulai Membaik

Berbeda dengan sektor publik, ULN swasta masih mengalami kontraksi. Pada kuartal II-2026, ULN swasta berada di level US$194,6 miliar, turun 0,6% yoy. Namun, kontraksi tersebut membaik dibandingkan kuartal sebelumnya yang mencapai 1,3%. Perbaikan terutama berasal dari ULN lembaga keuangan yang kontraksinya menyempit dari 6,3% menjadi 3,4% yoy.

ULN swasta terutama berasal dari sektor industri pengolahan, jasa keuangan dan asuransi, pengadaan listrik dan gas, serta pertambangan dan penggalian. Keempat sektor tersebut menyumbang sekitar 79,4% dari total ULN swasta. Strukturnya juga relatif sehat karena 75,7% ULN swasta merupakan utang jangka panjang, sehingga risiko refinancing dalam jangka pendek relatif lebih terbatas.

Apakah ULN RI Sudah Mengkhawatirkan?

Secara nominal, angka US$453,4 miliar memang terlihat besar. Namun, melihat utang hanya dari nominalnya kurang tepat. Investor juga perlu melihat kemampuan ekonomi Indonesia dalam menopang kewajiban tersebut. Salah satu indikator yang digunakan adalah rasio ULN terhadap PDB. Pada kuartal II-2026, rasio tersebut berada di 30,6%, sementara sekitar 82,1% ULN Indonesia merupakan utang jangka panjang.

Dengan struktur tersebut, BI menilai kondisi ULN Indonesia masih berada dalam kategori sehat dan terkendali. Yang juga penting adalah ke mana utang tersebut digunakan. ULN yang digunakan untuk sektor produktif dan pembangunan infrastruktur memiliki potensi menghasilkan aktivitas ekonomi yang pada akhirnya membantu kemampuan pembayaran utang. Sebaliknya, peningkatan utang yang tidak diikuti peningkatan produktivitas ekonomi tentu menjadi perhatian bagi investor.

Dampaknya ke Rupiah dan SBN

Bagi rupiah, data ULN ini relatif netral hingga positif selama pertumbuhan ULN tetap terkendali dan sebagian besar berasal dari pembiayaan jangka panjang. Namun, ketergantungan terhadap dana asing tetap menjadi risiko apabila terjadi capital outflow besar-besaran.

Bagi SBN, peningkatan ULN pemerintah yang berasal dari kepemilikan asing terhadap surat utang Indonesia menunjukkan masih adanya demand terhadap aset rupiah. Ini dapat menjadi sentimen positif karena menunjukkan investor asing masih bersedia menempatkan dana di pasar obligasi Indonesia.

Namun, investor tetap perlu memperhatikan yield US Treasury, arah kebijakan The Fed, rupiah, serta arus dana asing. Jika tekanan eksternal meningkat, kebutuhan pembiayaan yang semakin besar dapat membuat yield SBN ikut terdorong naik.

 

 

You Might Also Like

Ada RDG BI Hari Ini, Suku Bunga Diproyeksi Tahan di Level 5,75%

Prabowo Tetapkan Lokasi PFII di Jakarta dan Bali

BI Diproyeksi Tahan Suku Bunga di RDG Besok (19/8)

Trump Tak Mau Perpanjang Kesepakatan dengan Iran, Harga Minyak Tembus US$ 90 Lagi!

Prabowo Sebut Motor Listrik Nasional Diproduksi Paling Lambat 2028

TAGGED: utang luar negeri RI
Aurelia August 19, 2026 August 19, 2026
Previous Article FTSE Russell Tunda Penambahan Saham Indonesia Hingga Desember 2026
Leave a comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

IkutinIkutin
Mentari Greenwich B7-8, Jl. Letda Sujono No.64, Bandar Selamat, Kec. Medan Tembung, Kota Medan, Sumatera Utara 20223
adbanner
AdBlocker Terdeteksi
Kami dengan hormat meminta Anda mempertimbangkan untuk memasukkan situs web kami ke dalam daftar putih AdBlocker, karena situs tersebut beroperasi dengan dukungan iklan. Keputusan Anda untuk memasukkan situs kami ke dalam daftar putih akan memberikan kontribusi besar dalam mempertahankan operasinya.
Okay, I'll Whitelist
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?