[Medan | 4 Agustus 2026] Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan berpeluang kembali menguat pada perdagangan Selasa (4/8/2026), didukung membaiknya sejumlah indikator ekonomi domestik yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS). Meski demikian, penguatan diperkirakan masih dibayangi ketidakpastian konflik Amerika Serikat (AS)-Iran yang memengaruhi sentimen pasar global.
Inflasi Melandai, PMI Kembali Ekspansif
Data BPS menunjukkan inflasi Juli 2026 mengalami deflasi sebesar 0,14% secara bulanan, berbalik dari inflasi 0,44% pada Juni. Secara tahunan, inflasi turun menjadi 2,88% dari 3,34%, sementara inflasi inti tetap stabil di kisaran 2,76%.
Pada saat yang sama, aktivitas manufaktur Indonesia kembali memasuki fase ekspansi. Indeks PMI Manufaktur naik ke level 50,2 pada Juli dari 46,9 pada Juni, sekaligus menjadi level tertinggi sejak Februari 2026. Kembalinya PMI ke atas level 50 mengindikasikan aktivitas produksi mulai pulih setelah beberapa bulan mengalami kontraksi.
Defisit Neraca Dagang Menyempit
Perbaikan juga terlihat pada sektor perdagangan luar negeri. Defisit neraca dagang Juni 2026 menyempit menjadi US$450 juta dibandingkan defisit US$1,61 miliar pada Mei. Ekspor tumbuh 8,84% secara tahunan, sementara impor meningkat 34,27%. Meski impor masih tinggi, kenaikan tersebut didominasi oleh bahan baku dan barang modal yang mencerminkan masih berjalannya aktivitas investasi dan ekspansi industri.
Jadi Sentimen Positif untuk IHSG
Secara keseluruhan, kombinasi inflasi yang terkendali, aktivitas manufaktur yang kembali ekspansif, serta defisit perdagangan yang menyempit menjadi sentimen positif bagi pasar saham domestik. Inflasi yang lebih rendah membuka ruang bagi Bank Indonesia untuk lebih fleksibel menjaga stabilitas ekonomi, sementara pemulihan manufaktur mengindikasikan mulai meningkatnya aktivitas produksi nasional.
Meski demikian, investor masih perlu mencermati perkembangan impor yang tinggi agar benar-benar diikuti peningkatan produksi dan ekspor sehingga mampu memperkuat fundamental ekonomi dalam jangka panjang.
Sentimen Global Masih Membayangi
Dari eksternal, perhatian pasar masih tertuju pada perkembangan konflik AS-Iran. Ketidakpastian mengenai negosiasi kedua negara masih berpotensi memicu volatilitas pasar global. Selain itu, investor juga menunggu laporan keuangan sejumlah emiten teknologi Amerika Serikat untuk melihat apakah besarnya investasi pada sektor kecerdasan buatan (AI) mulai tercermin pada pertumbuhan laba perusahaan.
Proyeksi IHSG
Phintraco Sekuritas memperkirakan IHSG bergerak pada area support 6.180 dan resistance 6.300. Setelah ditutup melemah tipis 0,03% ke level 6.234 pada perdagangan sebelumnya, indeks dinilai masih memiliki peluang rebound. “IHSG diperkirakan masih berpotensi rebound dan menguji resistance di level 6.250-6.300,” tulis Phintraco Sekuritas dalam risetnya.
Sementara itu, Analis Binaartha Sekuritas Ivan Rosanova menilai selama IHSG mampu bertahan di atas level 6.138, tren penguatan masih berpotensi berlanjut dengan target menuju area 6.291 hingga 6.392.
Dengan kombinasi data ekonomi domestik yang membaik dan prospek teknikal yang masih positif, IHSG berpeluang melanjutkan penguatan dalam jangka pendek. Namun, arah pasar tetap akan dipengaruhi perkembangan geopolitik global serta sentimen dari bursa saham Amerika Serikat.

