[Medan | 20 Agustus 2026] Utang pemerintah Amerika Serikat (AS) kembali mencetak rekor setelah menembus US$40 triliun, mencerminkan semakin besarnya tekanan fiskal yang dihadapi ekonomi terbesar dunia tersebut.
Berdasarkan data Departemen Keuangan AS, total utang pemerintah mencapai US$40,05 triliun pada Selasa (18/8/2026). Level tersebut dicapai sekitar empat setengah tahun setelah total utang AS pertama kali melewati US$30 triliun. Dalam satu dekade terakhir, utang pemerintah AS telah meningkat lebih dari dua kali lipat. Pada 2016, total utang masih berada di sekitar US$19,4 triliun.
Defisit AS Semakin Besar
Lonjakan utang tersebut tidak terlepas dari defisit anggaran yang terus membesar. Pemerintah AS mencatat defisit sebesar US$432,3 miliar pada Juli 2026, menjadi defisit bulanan terbesar sejak Maret 2021. Secara kumulatif, defisit pada tahun berjalan telah mendekati US$1,8 triliun, lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Besarnya defisit membuat posisi utang publik AS kini mendekati 100% terhadap perekonomian AS. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan pembiayaan pemerintah tetap sangat besar, sementara biaya untuk membiayai utang juga semakin meningkat.
Yield Treasury Ikut Tertekan
Meningkatnya utang dan defisit AS menjadi salah satu faktor yang mendorong kenaikan yield Treasury dalam beberapa waktu terakhir. Semakin besar kebutuhan pemerintah untuk menerbitkan utang, semakin besar pula pasokan Treasury yang harus diserap investor. Jika permintaan tidak meningkat sebanding, harga obligasi dapat tertekan dan yield bergerak naik.
Tekanan tersebut semakin besar karena investor juga menghadapi sejumlah faktor lain, mulai dari meningkatnya penerbitan obligasi korporasi untuk membiayai investasi kecerdasan buatan (AI), kenaikan term premium, hingga kekhawatiran terhadap kredibilitas kebijakan inflasi The Fed.
Treasury Lakukan Buyback
Untuk meredam tekanan di pasar obligasi, Departemen Keuangan AS pada Rabu (19/8/2026) mengumumkan peningkatan buyback Treasury tenor panjang. Nilai pembelian kembali obligasi tenor 10-30 tahun akan ditingkatkan menjadi sedikitnya US$4 miliar per operasi, dari sebelumnya US$2 miliar. Kebijakan tersebut diharapkan dapat membantu meningkatkan likuiditas dan mengurangi tekanan pada segmen long end Treasury.
Namun, buyback tidak menghilangkan persoalan fundamental AS. Pemerintah tetap harus membiayai defisit dan utang yang jatuh tempo. Dengan kata lain, buyback dapat membantu menenangkan pasar dalam jangka pendek, tetapi tidak mengurangi total kebutuhan pembiayaan pemerintah AS.
Beban Bunga Semakin Berat
Kenaikan yield Treasury juga memberikan konsekuensi langsung terhadap anggaran pemerintah AS. Pembayaran bunga utang diperkirakan telah mencapai hampir US$1,2 triliun sepanjang tahun ini, menjadikannya salah satu pos pengeluaran terbesar pemerintah federal setelah Social Security dan Medicare. Semakin tinggi yield Treasury, semakin mahal biaya yang harus dibayar pemerintah ketika melakukan refinancing terhadap utang yang jatuh tempo maupun ketika menerbitkan utang baru.

