IkutinIkutinIkutin
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
  • Komunitas Petik Profit ➜
IkutinIkutin
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
  • Komunitas Petik Profit ➜
Jelajah
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
  • Komunitas Petik Profit ➜
Follow US
2024 ©️ Fawz Finansial Indonesia. All Rights Reserved.
Ekonomi

Risalah FOMC: Banyak Pejabat The Fed Dukung Suku Bunga Dinaikkan

By Aurelia 1 day ago Ekonomi
Image source: AP/ wamu.org
SHARE

[Medan | 20 Agustus 2026] Risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) menunjukkan sejumlah pejabat Federal Reserve (The Fed) masih membuka peluang kenaikan suku bunga apabila tekanan inflasi tidak kunjung mereda. Namun, ketidakpastian terhadap arah inflasi dan melemahnya sejumlah indikator ekonomi membuat keputusan kebijakan berikutnya masih sangat bergantung pada data.

Dalam rapat 28-29 Juli 2026, FOMC memutuskan mempertahankan suku bunga federal funds rate pada kisaran 3,50%-3,75% melalui voting 9-3. Tiga pejabat, yakni Lorie Logan, Beth Hammack, dan Neel Kashkari, memilih kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin. Dua pejabat regional lain yang tidak memiliki hak suara pada Juli, Jeff Schmid dan Alberto Musalem, setelah rapat juga memberikan sinyal bahwa mereka mendukung kenaikan suku bunga.

Inflasi Masih Jadi Kekhawatiran

Perdebatan utama dalam rapat Juli berpusat pada prospek inflasi yang masih sangat tidak pasti. Sebagian besar pejabat memperkirakan inflasi akan kembali menurun pada paruh kedua tahun ini seiring meredanya dampak tarif dan kenaikan harga energi sebelumnya. Namun, banyak pejabat juga melihat risiko inflasi bertahan lebih tinggi dalam waktu yang lebih lama.

Risiko tersebut semakin meningkat apabila konflik Iran kembali mengalami eskalasi. Kondisi geopolitik berpotensi mendorong harga energi dan kembali memberikan tekanan terhadap inflasi AS. Dengan kondisi tersebut, The Fed masih mempertahankan fokus pada mandat stabilitas harga, meskipun pasar tenaga kerja dinilai relatif seimbang antara permintaan dan penawaran tenaga kerja.

Data Ekonomi Mulai Memberikan Sinyal Dovish

Meski risalah menunjukkan adanya dukungan terhadap kenaikan suku bunga, data ekonomi yang dirilis setelah rapat Juli justru memberikan sinyal yang lebih lemah. Penjualan ritel AS turun pada Juli dengan penurunan terbesar dalam lebih dari satu tahun. Inflasi inti juga menunjukkan perlambatan, sementara data ketenagakerjaan memperlihatkan bahwa perusahaan secara tak terduga memangkas lapangan kerja pada Juli.

Revisi data perekrutan dua bulan sebelumnya juga menunjukkan kondisi pasar tenaga kerja yang lebih lemah dibandingkan perkiraan awal. Kombinasi tersebut mengurangi urgensi bagi The Fed untuk kembali menaikkan suku bunga dalam waktu dekat. Hal ini tercermin dari ekspektasi pasar. Peluang kenaikan suku bunga pada September yang sebelumnya sempat mencapai lebih dari 70% pada akhir Juli kini turun menjadi sekitar 36% berdasarkan harga kontrak futures federal funds.

Yield Treasury Sempat Tertekan

Sebelumnya, respons pasar terhadap komunikasi The Fed juga terlihat dari kenaikan yield obligasi Treasury tenor panjang ke level tertinggi dalam hampir dua dekade. Kenaikan yield tersebut mencerminkan kekhawatiran investor bahwa The Fed berpotensi menghadapi kesulitan dalam menjaga inflasi kembali menuju target 2%.

Namun, indikator ekspektasi inflasi tidak seluruhnya menunjukkan lonjakan yang signifikan. Spread antara yield Treasury konvensional dan Treasury yang terlindung dari inflasi untuk periode lima tahun ke depan hanya mengalami pelebaran tipis. Artinya, kenaikan yield panjang lebih banyak mencerminkan kekhawatiran terhadap arah kebijakan moneter, pasokan Treasury, serta risiko fiskal, bukan semata-mata lonjakan ekspektasi inflasi.

Bagaimana Dampaknya ke Market?

Bagi Treasury AS, risalah FOMC memberikan sentimen yang relatif mixed. Dukungan sejumlah pejabat terhadap kenaikan suku bunga berpotensi menjaga yield tetap tinggi, khususnya apabila data inflasi kembali mengejutkan ke atas. Namun, data ekonomi yang mulai melemah membuat peluang kenaikan suku bunga September semakin kecil. Jika tren pelemahan ekonomi berlanjut, yield Treasury berpotensi kembali turun karena pasar mulai mengantisipasi kebijakan yang lebih dovish.

Bagi bonds Indonesia, kondisi tersebut cenderung positif apabila penurunan yield Treasury berlanjut. Yield UST yang lebih rendah dapat mengurangi tekanan terhadap aset emerging market dan memberikan ruang bagi yield SUN untuk ikut turun, terutama jika rupiah tetap stabil. Dengan kata sederhana: The Fed belum sepenuhnya dovish, tetapi data ekonomi terbaru mulai memberikan alasan bagi pasar untuk kembali berharap bahwa kenaikan suku bunga tidak diperlukan.

Untuk saham, peluang kenaikan suku bunga yang semakin kecil dapat menjadi katalis positif karena menurunkan tekanan biaya modal dan meningkatkan daya tarik aset berisiko. Namun, pelemahan ekonomi AS juga perlu diperhatikan karena dapat menekan prospek laba perusahaan. Sementara itu, emas berpotensi mendapatkan dukungan apabila ekspektasi kenaikan suku bunga terus menurun. Yield riil yang lebih rendah biasanya meningkatkan daya tarik emas sebagai aset yang tidak memberikan bunga.

The Fed Akan Kurangi Frekuensi Rapat?

Risalah juga mengungkap usulan Kevin Warsh untuk mengurangi jumlah pertemuan kebijakan FOMC dari delapan menjadi enam kali dalam setahun. Menurut Warsh, jeda yang lebih panjang antarpertemuan akan memberikan lebih banyak waktu bagi para pembuat kebijakan untuk mengumpulkan data dan mengevaluasi kondisi ekonomi sebelum mengambil keputusan.

Namun, perubahan tersebut belum akan dilakukan tahun ini. Penerbitan risalah FOMC juga menjadi perhatian karena hanya berjarak sekitar satu minggu sebelum Jackson Hole, di mana Warsh diperkirakan akan menyampaikan pidato pertamanya sebagai Ketua The Fed sejak menjabat pada Mei 2026.

 

You Might Also Like

Insentif Motor Listrik Turun Jadi Rp 3 juta Per Unit

Menko Airlangga Targetkan 360 Ton Emas WNI Masuk Bank Emas

Yield Obligasi AS Kembali Naik, Buyback Gagal Tahan Kenaikan Yield

AS Ancam Sanksi Ekonomi Untuk Iran, Harga Minyak Naik Lagi

Harga Emas Naik 4% Tembus US$4.500, Ada Apa?

TAGGED: risalah the fed, suku bunga AS, The Fed suku bunga
Aurelia August 20, 2026 August 20, 2026
Previous Article Trump Deklarasikan Perang Ekonomi dengan Iran
Next Article Defisit Melebar, Utang Pemerintah AS Tembus US$ 40 Triliun
Leave a comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

IkutinIkutin
Mentari Greenwich B7-8, Jl. Letda Sujono No.64, Bandar Selamat, Kec. Medan Tembung, Kota Medan, Sumatera Utara 20223
adbanner
AdBlocker Terdeteksi
Kami dengan hormat meminta Anda mempertimbangkan untuk memasukkan situs web kami ke dalam daftar putih AdBlocker, karena situs tersebut beroperasi dengan dukungan iklan. Keputusan Anda untuk memasukkan situs kami ke dalam daftar putih akan memberikan kontribusi besar dalam mempertahankan operasinya.
Okay, I'll Whitelist
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?