[Medan | 3 Agustus 2026] Laju inflasi Indonesia diperkirakan melambat pada Juli 2026 seiring meredanya tekanan harga pangan dan energi. Perlambatan tersebut dinilai dapat memberikan ruang lebih besar bagi Bank Indonesia (BI) untuk mempertahankan suku bunga acuannya di tengah ketidakpastian global.
Badan Pusat Statistik (BPS) dijadwalkan mengumumkan data inflasi Juli pada Senin (3/8/2026). Berdasarkan konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia dari 12 institusi, Indeks Harga Konsumen (IHK) diperkirakan mengalami inflasi sebesar 0,11% secara bulanan (month-to-month/mtm). Secara tahunan, inflasi diproyeksikan turun menjadi 3,20%, dibandingkan 3,34% pada Juni 2026.
Sementara itu, inflasi inti diperkirakan naik tipis menjadi 2,77% (year-on-year/yoy) dari 2,76% pada bulan sebelumnya, menandakan tekanan harga di luar komponen yang bergejolak masih bertahan.
Harga Pangan Mulai Turun
Perlambatan inflasi terutama didorong oleh penurunan harga sejumlah komoditas pangan setelah memasuki musim panen. Tim Office of Chief Economist Bank Mandiri memperkirakan kelompok volatile food mengalami deflasi sebesar 1,12% (mtm), berbalik dari inflasi 0,14% pada Juni.
Penurunan tersebut tercermin dari data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPSN), di mana harga cabai rawit merah turun sekitar 21%, bawang merah turun 17%, dan cabai merah besar turun 17% sepanjang Juli.
Namun, tekanan harga belum sepenuhnya hilang. Harga beras, bawang putih, dan daging ayam masih mengalami kenaikan, sementara musim kemarau tetap menjadi risiko bagi pasokan pangan dalam beberapa bulan mendatang.
Penurunan Harga BBM Turut Redam Inflasi
Selain pangan, meredanya tekanan harga energi juga diperkirakan membantu menahan laju inflasi. Mulai 1 Juli 2026, Pertamina menurunkan harga sejumlah BBM nonsubsidi seperti Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex. Penyesuaian tersebut diperkirakan mengurangi tekanan biaya transportasi dan distribusi barang selama Juli. Di sisi lain, harga BBM subsidi maupun LPG subsidi tetap tidak berubah sehingga turut menjaga stabilitas harga di tingkat konsumen.
Inflasi Inti Masih Bertahan
Meski inflasi umum diperkirakan melambat, inflasi inti diperkirakan tetap meningkat secara bertahap. Ekonom Bank Danamon Hosianna Evalita Situmorang menilai pelemahan rupiah dan kenaikan biaya produksi masih diteruskan ke harga barang dan jasa. Selain itu, biaya pendidikan pada awal tahun ajaran baru juga diperkirakan menjadi salah satu pendorong inflasi pada Juli.
Senada, Ekonom Bank Maybank Indonesia Juniman memperkirakan tekanan inflasi masih berasal dari kenaikan harga beberapa bahan pangan serta imported inflation akibat pelemahan rupiah yang meningkatkan harga barang impor, khususnya elektronik dan kendaraan.
Dampaknya ke Pasar
Apabila inflasi Juli benar-benar lebih rendah dari perkiraan, sentimen pasar berpotensi membaik karena memberikan ruang bagi Bank Indonesia untuk mempertahankan suku bunga tanpa tekanan tambahan dari inflasi. Kondisi tersebut umumnya positif bagi pasar obligasi karena dapat menekan imbal hasil (yield), sekaligus mendukung penguatan IHSG melalui meningkatnya minat investor terhadap aset berisiko.
Sebaliknya, apabila inflasi tercatat lebih tinggi dari ekspektasi pasar, peluang BI mempertahankan kebijakan moneter yang ketat akan semakin besar. Hal tersebut berpotensi mendorong kenaikan yield obligasi, membatasi penguatan pasar saham, dan memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah.

