[Medan | 17 Juni 2026] Harga minyak dunia terus mengalami tekanan setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran semakin dekat menuju penandatanganan kesepakatan damai yang dijadwalkan berlangsung pada Jumat (19/6) di Swiss. Kesepakatan tersebut juga akan membuka kembali Selat Hormuz, jalur strategis yang selama beberapa bulan terakhir menjadi sumber utama gangguan pasokan energi global.
Pada perdagangan Selasa (16/6), harga minyak mentah Brent ditutup turun US$4,21 atau 5,1% ke level US$78,96 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) anjlok US$4,70 atau 5,8% menjadi US$76,05 per barel.
Level tersebut menjadi posisi penutupan terendah sejak awal Maret, menandai berakhirnya premi risiko geopolitik yang sempat mendorong harga minyak melonjak selama konflik AS-Iran berlangsung.
Selat Hormuz Kembali Dibuka, Risiko Pasokan Mereda
Penurunan harga minyak terjadi setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa Selat Hormuz akan kembali dibuka setelah perjanjian damai resmi ditandatangani.
Selama konflik berlangsung, pasar energi global menghadapi ketidakpastian besar karena sekitar 20% perdagangan minyak dunia melewati jalur tersebut. Kekhawatiran terganggunya distribusi minyak sempat mendorong Brent mendekati US$100 per barel dan memicu lonjakan inflasi di berbagai negara.
Kini, dengan semakin besarnya peluang normalisasi arus pelayaran dan pasokan energi, pelaku pasar mulai menghapus premi risiko yang sebelumnya melekat pada harga minyak.
Apakah Harga BBM Indonesia Bisa Turun?
Turunnya harga minyak dunia langsung memunculkan pertanyaan mengenai kemungkinan penyesuaian harga BBM non-subsidi di Indonesia.
Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR), Fabby Tumiwa, menilai pelemahan harga minyak berpotensi menekan harga Mean of Platts Singapore (MOPS) yang menjadi salah satu komponen utama dalam penentuan harga BBM.
Apabila tren penurunan harga minyak berlanjut hingga akhir Juni, maka harga BBM non-subsidi berpotensi mengalami penyesuaian turun pada awal Juli mendatang.
Namun demikian, harga BBM tidak hanya dipengaruhi oleh harga minyak mentah global. Faktor lain seperti nilai tukar rupiah, harga MOPS, biaya distribusi, serta kebijakan pemerintah juga akan menentukan besarnya penyesuaian yang dilakukan.
Belum Kembali ke Harga Sebelum Perang
Meski mengalami koreksi tajam, harga minyak saat ini masih berada di atas level sebelum konflik pecah pada akhir Februari.
Sebelum perang dimulai, Brent diperdagangkan di kisaran US$72 per barel, sementara WTI berada di sekitar US$67 per barel. Artinya, sebagian premi risiko masih tersisa karena pasar masih menunggu implementasi penuh dari kesepakatan damai serta proses normalisasi distribusi energi di kawasan Timur Tengah.
Menurut Pengamat Energi Universitas Padjadjaran, Yayan Satyakti, harga minyak kemungkinan masih bergerak di kisaran US$80–90 per barel hingga akhir musim panas sebelum perlahan turun menuju kisaran US$75–85 per barel.
Hal tersebut menunjukkan bahwa normalisasi harga energi kemungkinan berlangsung secara bertahap, bukan langsung kembali ke level sebelum konflik.
Kabar Baik untuk Inflasi dan BI
Penurunan harga minyak juga menjadi sentimen positif bagi perekonomian Indonesia secara keseluruhan.
Harga energi yang lebih rendah berpotensi mengurangi tekanan imported inflation, memperbaiki neraca perdagangan migas, serta mengurangi risiko pelebaran subsidi energi apabila pemerintah memutuskan mempertahankan harga BBM tertentu.
Bagi Bank Indonesia, kondisi ini turut mengurangi salah satu faktor yang sebelumnya mendorong kenaikan suku bunga darurat sebesar 25 basis poin pada awal Juni lalu.
Jika harga minyak tetap rendah dan rupiah terus stabil, tekanan bagi BI untuk kembali menaikkan suku bunga dalam waktu dekat juga akan semakin berkurang.

