[Medan | 17 Juni 2026] Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 17–18 Juni 2026 menjadi salah satu agenda yang paling dinantikan pelaku pasar pekan ini. Setelah mengejutkan pasar dengan kenaikan suku bunga 25 basis poin pada awal Juni, kini muncul dua pandangan berbeda mengenai arah kebijakan BI selanjutnya.
Di satu sisi, meredanya ketegangan geopolitik global dan penguatan rupiah membuka ruang bagi BI untuk menahan suku bunga. Namun di sisi lain, sejumlah ekonom menilai risiko inflasi dan defisit transaksi berjalan masih dapat memaksa bank sentral kembali menaikkan suku bunga dalam beberapa bulan ke depan.
Kubu Pertama: BI Diperkirakan Menahan Suku Bunga
Sejumlah ekonom menilai langkah kenaikan suku bunga yang dilakukan BI sebelumnya sudah cukup efektif meredakan tekanan pasar.
Head of Macroeconomic and Financial Market Research PermataBank, Faisal Rachman, memperkirakan BI akan mempertahankan BI Rate di level 5,50% pada RDG Juni. Menurutnya, kenaikan suku bunga sebelumnya telah memberikan sinyal kuat kepada pasar bahwa BI tetap berkomitmen menjaga stabilitas rupiah.
Selain itu, sentimen global juga membaik setelah Amerika Serikat dan Iran mencapai kesepakatan damai sementara yang mendorong harga minyak turun tajam. Kondisi tersebut membantu meredakan risiko inflasi global dan mengurangi tekanan terhadap negara-negara emerging markets, termasuk Indonesia.
Meredanya kekhawatiran terhadap inflasi energi juga mulai mendorong arus modal kembali masuk ke pasar domestik. Rupiah yang sempat mendekati Rp18.200 per dolar AS kini menunjukkan tren penguatan, sehingga kebutuhan BI untuk kembali menaikkan suku bunga dalam waktu dekat dinilai berkurang.
Kubu Kedua: Risiko Kenaikan Suku Bunga Belum Hilang
Meski demikian, tidak semua ekonom sepakat bahwa siklus pengetatan telah berakhir.
Faisal sendiri masih melihat peluang kenaikan suku bunga tambahan sebesar 25 basis poin pada kuartal III 2026 apabila tekanan inflasi kembali meningkat.
Menurutnya, pelemahan rupiah yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir masih berpotensi menimbulkan inflation pass-through, yakni kenaikan harga barang impor yang pada akhirnya diteruskan ke konsumen domestik. Risiko ini dapat mendorong inflasi bergerak lebih tinggi pada semester kedua tahun ini.
Selain itu, risiko pelebaran defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) juga menjadi perhatian. Perlambatan ekonomi global berpotensi menekan kinerja ekspor Indonesia, sementara impor diperkirakan meningkat seiring berbagai program stimulus dan belanja pemerintah yang mendukung pertumbuhan ekonomi.
Dari sisi eksternal, pasar juga masih melihat Federal Reserve berpotensi mempertahankan sikap hawkish lebih lama. Walaupun peluang kenaikan suku bunga The Fed tahun ini mulai menurun setelah harga minyak turun, sebagian investor masih memperkirakan suku bunga AS akan tetap tinggi dalam periode yang panjang.
Fokus Pasar: Nada Pernyataan BI
Untuk RDG Juni kali ini, sebagian besar pelaku pasar memperkirakan BI akan mempertahankan suku bunga di level 5,50%.
Namun yang lebih penting dari keputusan suku bunga itu sendiri adalah bagaimana nada pernyataan Bank Indonesia setelah rapat selesai.
Apabila BI menegaskan bahwa stabilitas rupiah mulai membaik dan risiko eksternal mereda, pasar kemungkinan akan menafsirkan bahwa kenaikan suku bunga sebelumnya sudah cukup.
Sebaliknya, jika BI masih menyoroti risiko inflasi, pelemahan rupiah, dan potensi pelebaran defisit transaksi berjalan, maka ekspektasi kenaikan suku bunga lanjutan pada kuartal III dapat kembali menguat.

