[Medan | 29 Juni 2026] Harga minyak dunia mengawali perdagangan pekan ini dengan kenaikan tipis setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali terlibat aksi saling serang di Timur Tengah. Eskalasi terbaru tersebut memicu kembali kekhawatiran terhadap keamanan jalur distribusi energi global melalui Selat Hormuz, meskipun kedua negara dilaporkan kembali membuka peluang perundingan damai.
Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent untuk pengiriman September naik 52 sen atau 0,72% menjadi US$72,51 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat 71 sen atau 1,03% ke level US$69,94 per barel.
Serangan Baru Ganggu Arus Pelayaran Hormuz
Kenaikan harga minyak terjadi setelah aktivitas pelayaran di Selat Hormuz kembali terganggu akibat serangkaian serangan terhadap kapal-kapal komersial sejak Kamis (26/6), termasuk sebuah kapal tanker yang terkait dengan Qatar. Insiden tersebut memicu aksi balasan dari AS maupun Iran dan meningkatkan kembali ketidakpastian terhadap keberlangsungan kesepakatan damai sementara yang sebelumnya telah dicapai.
Padahal, pada pekan lalu harga minyak sempat terkoreksi lebih dari 10% karena pasar menilai pasokan minyak melalui Selat Hormuz mulai kembali normal setelah sempat terganggu akibat konflik yang berlangsung sejak Februari.
Pasar Kaji Ulang Prospek Pemulihan Pasokan
Analis ANZ menilai perkembangan terbaru membuat pasar kembali mempertanyakan kecepatan pemulihan pasokan minyak dari kawasan Teluk Persia. Menurut mereka, proses normalisasi diperkirakan akan berlangsung lebih lambat dari perkiraan sebelumnya.
Meski demikian, kenaikan harga minyak masih tertahan setelah muncul laporan bahwa AS dan Iran kembali sepakat menghentikan sementara aksi militer terbaru dan melanjutkan perundingan mengenai sengketa Selat Hormuz di Qatar. Namun hingga kini, laporan tersebut belum dapat dikonfirmasi secara independen.
Pemulihan Pasokan Masih Membutuhkan Waktu
Di sisi lain, Saudi Aramco telah kembali mengoperasikan terminal ekspor Ras Tanura sejak Jumat (27/6) setelah sempat terhenti selama hampir empat bulan. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya mempercepat pemulihan ekspor energi dari kawasan Timur Tengah.
Namun, ANZ memperkirakan pemulihan pasokan minyak global belum akan berlangsung cepat. Selain masih adanya antrean kapal tanker, distribusi energi juga dibayangi kerusakan infrastruktur dan penghentian produksi di sejumlah fasilitas minyak akibat konflik. Dengan kondisi tersebut, pasokan minyak diperkirakan baru dapat kembali mendekati tingkat sebelum perang pada akhir tahun ini.
Di tengah proses normalisasi tersebut, operasi ekspor di Ras Tanura tetap berjalan meski sebuah helikopter milik Saudi Aramco mengalami kecelakaan pada Minggu (28/6), yang menewaskan 14 orang. Otoritas Arab Saudi menyatakan penyebab insiden tersebut masih dalam proses penyelidikan.

