[Medan | 9 Juni 2026] Harga minyak dunia bergerak lebih stabil pada perdagangan Senin (9/6/2026) setelah Iran dan Israel sama-sama memberi sinyal untuk menahan eskalasi konflik yang sebelumnya sempat memicu lonjakan tajam harga energi global.
Pelaku pasar mulai melihat peluang meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah setelah kedua negara menyatakan komitmen untuk meminimalisir serangan langsung satu sama lain, meskipun ancaman konflik regional masih belum sepenuhnya hilang.
Iran dan Israel Sama-Sama Tahan Eskalasi
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan negaranya akan menahan diri untuk tidak menyerang Iran untuk sementara waktu, namun tetap siap melakukan pembalasan apabila Teheran kembali melancarkan serangan.
Di sisi lain, Iran juga mengumumkan penghentian operasi militernya terhadap Israel. Meski demikian, militer Iran memperingatkan bahwa serangan baru Israel, termasuk terhadap Hizbullah di Lebanon Selatan, dapat memicu respons yang jauh lebih keras.
Pernyataan kedua negara muncul setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump melakukan pembicaraan langsung dengan Netanyahu. Trump sebelumnya secara terbuka mendorong de-eskalasi guna menjaga proses negosiasi gencatan senjata antara Washington dan Teheran tetap berjalan.
Harga Minyak Naik Terbatas
Ketegangan geopolitik yang mulai mereda membuat kenaikan harga minyak menjadi lebih terbatas dibanding lonjakan tajam pada akhir pekan lalu. Mengutip CNBC, harga minyak mentah Brent ditutup naik 1,25% ke level US$94,25 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) menguat 0,84% menjadi US$91,30 per barel.
Sebelumnya, harga Brent sempat melonjak mendekati US$97 per barel setelah aksi saling serang Iran-Israel meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi global, terutama di Selat Hormuz yang menjadi jalur utama distribusi minyak dunia.
Selat Hormuz Masih Jadi Fokus Pasar
Perhatian investor kini tertuju pada normalisasi aliran energi melalui Selat Hormuz. Beberapa kapal komersial dilaporkan mulai kembali melintas di kawasan tersebut selama akhir pekan, meskipun risiko keamanan masih tinggi dan sebagian kapal memilih mematikan sistem identifikasi digital mereka demi alasan keselamatan.
Meski tensi geopolitik sedikit mereda, risiko pasar energi masih sangat tinggi. Iran sebelumnya mengancam akan menyerang seluruh fasilitas minyak dan gas yang terkait dengan Israel, Amerika Serikat, maupun sekutunya apabila infrastruktur energi Iran terus menjadi target serangan.
Selain itu, kelompok Houthi yang didukung Iran juga mengumumkan larangan navigasi bagi kapal-kapal yang terkait dengan Israel di Laut Merah. Langkah tersebut meningkatkan risiko gangguan distribusi energi global di dua jalur maritim paling strategis dunia sekaligus, yakni Selat Hormuz dan Laut Merah.
Dampak ke Inflasi dan Pasar Indonesia
Konflik Timur Tengah dalam beberapa pekan terakhir telah memicu lonjakan harga minyak dunia, memperbesar tekanan inflasi global, dan meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap kebijakan suku bunga bank sentral utama dunia, khususnya Federal Reserve.
Bagi pasar domestik Indonesia, harga minyak yang tetap tinggi berpotensi menekan neraca perdagangan migas, memperbesar kebutuhan impor energi, dan meningkatkan tekanan terhadap nilai tukar Rupiah. Kondisi tersebut juga dapat membatasi ruang Bank Indonesia untuk melanjutkan pelonggaran moneter dalam jangka pendek.
Meski demikian, apabila proses de-eskalasi antara Iran dan Israel benar-benar berlanjut dan distribusi energi global mulai normal kembali, tekanan terhadap harga minyak berpotensi mereda secara bertahap dalam beberapa pekan mendatang.

