[Medan | 21 Juli 2026] Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi bergerak terbatas pada perdagangan Selasa (21/7/2026) menjelang keputusan suku bunga Bank Indonesia (BI). Setelah ditutup menguat 0,91% ke level 6.231,70 pada perdagangan sebelumnya, pelaku pasar kini cenderung mengambil posisi wait and see sambil menanti hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI yang diperkirakan menjadi penentu arah pasar dalam jangka pendek.
Mayoritas pelaku pasar masih memperkirakan BI akan mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75%. Namun, meningkatnya harga minyak dunia dan tekanan terhadap nilai tukar rupiah membuat peluang kenaikan suku bunga belum sepenuhnya tertutup.
Pasar Mulai Terbelah Soal Arah BI
Dalam beberapa pekan terakhir, pandangan pelaku pasar mulai terbelah mengenai langkah Bank Indonesia. Di satu sisi, konsensus masih memperkirakan BI akan menahan BI Rate pada pertemuan kali ini mengingat pertumbuhan ekonomi domestik masih melambat. Hal tersebut tercermin dari lemahnya penjualan ritel, perlambatan aktivitas manufaktur, hingga memburuknya sentimen dunia usaha.
Namun di sisi lain, sejumlah ekonom mulai memperkirakan BI justru akan kembali menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 6%, bahkan membuka peluang suku bunga terminal mencapai 6,25% apabila tekanan inflasi terus meningkat. Kepala Ekonom Bank Danamon, Irman Faiz, menilai kenaikan tersebut diperlukan karena inflasi mulai mendekati batas atas target BI, sementara pelemahan rupiah dan lonjakan harga energi berpotensi memperbesar tekanan harga dalam beberapa bulan ke depan.
Harga Minyak Jadi Variabel Baru
Berbeda dengan beberapa pekan lalu ketika harga minyak sempat turun, kondisi saat ini berubah cukup drastis. Harga minyak Brent kini telah kembali menembus US$90 per barel setelah konflik Amerika Serikat dan Iran semakin memanas. Kenaikan harga energi tersebut berpotensi meningkatkan tekanan inflasi di Indonesia, terutama apabila pemerintah atau Pertamina kembali melakukan penyesuaian harga BBM non-subsidi.
Apabila harga minyak bertahan tinggi dalam beberapa waktu, ruang bagi Bank Indonesia untuk mempertahankan suku bunga menjadi semakin sempit. Meskipun BI memilih menahan suku bunga pada pertemuan Juli, pasar kemungkinan tetap akan mengantisipasi peluang kenaikan pada pertemuan berikutnya apabila tekanan inflasi dan pelemahan rupiah terus berlanjut.
Dengan kata lain, keputusan hold bukan berarti siklus pengetatan telah berakhir, melainkan dapat menjadi jeda sementara sambil menunggu perkembangan harga minyak, inflasi, dan stabilitas nilai tukar.
Asing Mulai Masuk, Tapi Masih Hati-hati
Di tengah ketidakpastian tersebut, arus dana asing mulai menunjukkan perbaikan. Investor asing membukukan net buy Rp156,57 miliar pada perdagangan Senin (20/7), melanjutkan tren beli bersih selama sepekan terakhir. Meski demikian, secara year-to-date investor asing masih mencatatkan jual bersih sekitar Rp90,88 triliun, menunjukkan kepercayaan investor global terhadap pasar Indonesia belum sepenuhnya pulih.
Penguatan IHSG pada perdagangan sebelumnya terutama ditopang saham-saham berkapitalisasi besar seperti BBRI, BRPT, TLKM, dan BUMI, yang menjadi kontributor utama kenaikan indeks.
Level Teknikal Masih Terbatas
Secara teknikal, analis BRI Danareksa Sekuritas memperkirakan IHSG masih berpeluang menguji area 6.240–6.300 selama mampu bertahan di atas support 6.100–6.130. Sementara itu, MNC Sekuritas menilai penguatan mulai terbatas karena IHSG berada pada fase akhir gelombang kenaikan (wave c). Risiko koreksi masih terbuka apabila indeks gagal menembus area 6.377, sedangkan penembusan level tersebut dapat membuka peluang menuju kisaran 6.450–6.545.
Apa yang Perlu Dicermati Investor?
Untuk saat ini, strategi yang paling rasional adalah wait and see hingga hasil RDG Bank Indonesia diumumkan.
Bukan hanya keputusan suku bunganya yang penting, tetapi juga nada pernyataan (forward guidance) BI mengenai inflasi, stabilitas rupiah, dan prospek kebijakan ke depan. Jika BI mempertahankan suku bunga namun memberikan sinyal bahwa kenaikan masih mungkin dilakukan dalam beberapa bulan mendatang, pasar kemungkinan akan tetap mengantisipasi kebijakan yang lebih ketat.
Di sisi lain, apabila BI menilai kenaikan harga minyak hanya bersifat sementara dan tekanan inflasi masih dapat dikendalikan, sentimen terhadap pasar saham domestik berpotensi tetap positif, terutama apabila arus dana asing terus berlanjut.
Dengan kondisi saat ini, pergerakan IHSG masih berpotensi bertahan di zona positif. Namun, ruang penguatannya diperkirakan terbatas hingga pasar memperoleh kepastian mengenai arah kebijakan Bank Indonesia dan perkembangan konflik geopolitik yang masih menjadi faktor utama penggerak harga minyak global.

