IkutinIkutinIkutin
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
  • Komunitas Petik Profit ➜
IkutinIkutin
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
  • Komunitas Petik Profit ➜
Jelajah
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
  • Komunitas Petik Profit ➜
Follow US
2024 ©️ Fawz Finansial Indonesia. All Rights Reserved.
Ekonomi

Jelang Rapat Suku Bunga BI, Rupiah Dekati Level Rp 17.900

By Aurelia 1 day ago Ekonomi
Image source: AP/ unair.ac.id
SHARE

[Medan | 22 September 2026] Rupiah kembali melemah pada perdagangan Selasa (22/9/2026), sementara mayoritas mata uang Asia bergerak menguat. Tekanan terhadap rupiah terjadi menjelang keputusan suku bunga Bank Indonesia (BI) yang akan diumumkan pada Rabu (23/9/2026).

Mengutip data Bloomberg, rupiah dibuka melemah 0,17% ke level Rp17.868/US$. Tekanan kemudian berlanjut. Pada pukul 09.05 WIB, rupiah tercatat melemah 0,25% ke Rp17.883/US$. Di pasar non-deliverable forward (NDF), rupiah bahkan sempat menyentuh Rp17.922/US$ pada pukul 09.05 WIB. Pergerakan rupiah di pasar offshore tersebut menjadi salah satu indikator yang turut mencerminkan tekanan terhadap rupiah di pasar spot.

Rupiah Melemah Saat Mata Uang Asia Menguat

Pergerakan rupiah terlihat berbeda dibandingkan sejumlah mata uang Asia yang justru menguat pada perdagangan pagi. Won Korea Selatan menjadi mata uang dengan penguatan terbesar, yakni 0,95%. Dolar Taiwan juga terapresiasi 0,24%, disusul peso Filipina, baht Thailand, dan ringgit Malaysia.

Sementara itu, yen Jepang melemah secara terbatas. Dolar Singapura, yuan offshore, dan yuan China juga bergerak melemah. Kondisi tersebut membuat tekanan terhadap rupiah lebih banyak berkaitan dengan faktor domestik dan ekspektasi kebijakan moneter BI, terutama menjelang rapat Dewan Gubernur BI.

Pasar Perkirakan BI Rate Tetap 5,75%

Konsensus ekonom dan analis yang dihimpun Bloomberg memperkirakan BI akan mempertahankan BI Rate pada level 5,75% dalam rapat kali ini. Keputusan tersebut akan menjadi perhatian pasar karena sejumlah bank sentral utama global baru saja mengambil langkah pengetatan moneter.

Federal Reserve AS menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 3,75%-4%. European Central Bank (ECB) juga menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 2,5%. Bank of Japan (BoJ) turut menaikkan suku bunga acuannya. Kenaikan suku bunga oleh bank sentral utama tersebut dapat meningkatkan tekanan terhadap negara berkembang melalui pergerakan dolar AS, imbal hasil aset global, serta arus modal.

Namun, arah kebijakan BI tidak hanya ditentukan oleh keputusan bank sentral global. Kondisi inflasi, pertumbuhan ekonomi, nilai tukar, serta stabilitas eksternal domestik juga menjadi pertimbangan.

Harga Minyak Tambah Tekanan ke Rupiah

Selain perbedaan suku bunga global, tekanan terhadap rupiah juga berasal dari harga minyak mentah dunia yang masih berada di atas asumsi APBN 2026. Harga energi yang tinggi dapat meningkatkan kebutuhan impor Indonesia dan pada akhirnya meningkatkan kebutuhan valuta asing. Kondisi tersebut berpotensi memberikan tekanan tambahan terhadap posisi eksternal Indonesia.

Risiko tersebut menjadi lebih penting karena defisit transaksi berjalan Indonesia melebar pada kuartal II-2026. Jika harga minyak bertahan tinggi, kebutuhan impor energi dapat semakin besar dan berpotensi memperlebar tekanan terhadap transaksi berjalan.

Defisit Transaksi Berjalan Jadi Perhatian

Lionel Priyadi, Fixed Income & Macro Strategist Mega Capital Sekuritas, memperkirakan defisit transaksi berjalan Indonesia dapat berada di kisaran 1,9%-2,4% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada 2026. Menurutnya, besarnya defisit tersebut akan sangat bergantung pada kemampuan Indonesia mempertahankan surplus perdagangan pada paruh kedua tahun ini.

Surplus perdagangan yang cukup besar dapat membantu menutup kebutuhan impor serta pembayaran kepada pihak luar negeri. Sebaliknya, apabila surplus tidak mampu mengimbangi kebutuhan tersebut, tekanan terhadap rupiah dapat meningkat.

Arah BI Jadi Perhatian Pasar

Dengan rupiah yang kembali mendekati level Rp17.900/US$, pasar kini menunggu sinyal dari keputusan BI. Konsensus saat ini masih mengarah pada BI Rate 5,75%, tetapi perhatian tidak hanya tertuju pada keputusan suku bunga, melainkan juga pada pandangan BI terhadap kondisi rupiah dan risiko eksternal.

Jika BI mempertahankan suku bunga, respons pasar akan sangat bergantung pada komunikasi bank sentral mengenai stabilitas nilai tukar, tekanan eksternal, dan prospek kebijakan moneter ke depan. Sementara itu, pergerakan harga minyak dan kondisi transaksi berjalan akan tetap menjadi faktor penting bagi arah rupiah dalam beberapa waktu ke depan.

You Might Also Like

Jelang Pertemuan Trump-Xi, AS-China Bahas AI, Tarif dan Mineral Kritis

AS-Iran Berdialog di New York, Trump Sebut Berjalan Baik

Optimisme Perundingan AS-Iran, Harga Minyak Turun di Bawah US$100

Rupiah Dekati Rp 17.900, Akankah BI Naikkan Suku Bunga Hari Ini?

IHSG Anjlok Hampir 2%, Apa Lagi Penyebabnya?

TAGGED: suku bunga BI
Aurelia September 22, 2026 September 22, 2026
Previous Article Ada Harapan Diplomasi AS-Iran, Harga Minyak Turun ke US$ 100
Next Article Pejabat The Fed Musalem Beri Sinyal Suku Bunga AS Bakal Naik Lagi
Leave a comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

IkutinIkutin
Mentari Greenwich B7-8, Jl. Letda Sujono No.64, Bandar Selamat, Kec. Medan Tembung, Kota Medan, Sumatera Utara 20223
adbanner
AdBlocker Terdeteksi
Kami dengan hormat meminta Anda mempertimbangkan untuk memasukkan situs web kami ke dalam daftar putih AdBlocker, karena situs tersebut beroperasi dengan dukungan iklan. Keputusan Anda untuk memasukkan situs kami ke dalam daftar putih akan memberikan kontribusi besar dalam mempertahankan operasinya.
Okay, I'll Whitelist
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?