[Medan | 22 September 2026] Pejabat Federal Reserve Bank of St. Louis Alberto Musalem memberikan sinyal bahwa kenaikan suku bunga tambahan masih diperlukan untuk membawa inflasi Amerika Serikat (AS) kembali ke target 2%.
Musalem menilai tekanan inflasi masih cukup tinggi karena permintaan domestik yang tetap kuat serta tekanan dari sisi pasokan yang kembali muncul. Menurutnya, tanpa pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut, risiko inflasi berada jauh di atas target The Fed dalam 18 bulan ke depan masih lebih besar dibandingkan kemungkinan inflasi kembali ke sasaran.
“Permintaan yang terus bertahan dan tekanan pasokan yang berulang masih berkontribusi terhadap tingginya risiko inflasi,” kata Musalem dalam wawancara dengan Reuters pada Senin (21/9/2026).
Suku Bunga Saat Ini Dinilai Masih Akomodatif
Musalem juga menilai kebijakan moneter The Fed saat ini masih memberikan stimulus terhadap perekonomian, meskipun bank sentral telah menaikkan suku bunga pada bulan ini. The Fed menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pada pekan lalu menjadi 3,75%-4%. Kenaikan tersebut menjadi yang pertama dalam lebih dari tiga tahun dan diputuskan secara bulat oleh para pejabat bank sentral.
Namun, menurut Musalem, kisaran suku bunga saat ini masih berada “di sisi akomodatif”. Artinya, tingkat suku bunga tersebut dinilai belum memberikan tekanan yang cukup kuat terhadap aktivitas ekonomi untuk menurunkan permintaan dan meredam inflasi. Musalem sendiri tidak memiliki hak suara dalam keputusan kebijakan moneter The Fed pada 2026.
Kenaikan Bertahap Dinilai Lebih Minim Gangguan
Musalem mengatakan kenaikan suku bunga lebih awal melalui langkah-langkah bertahap dapat menimbulkan gangguan yang lebih kecil terhadap perekonomian dibandingkan pengetatan yang lebih agresif pada tahap berikutnya.
Pandangan tersebut menunjukkan bahwa apabila tekanan inflasi tetap tinggi, The Fed dapat mempertimbangkan pengetatan tambahan secara bertahap untuk memastikan inflasi bergerak menuju target 2%. Para pejabat The Fed sebelumnya juga telah memberikan sinyal bahwa masih terdapat kemungkinan kenaikan suku bunga satu kali lagi sebelum akhir tahun.
Inflasi Jadi Fokus Utama The Fed
Pernyataan Musalem menegaskan bahwa inflasi masih menjadi pertimbangan utama dalam menentukan arah kebijakan moneter AS. Meskipun suku bunga telah dinaikkan bulan ini, The Fed masih melihat risiko bahwa permintaan yang kuat dapat mempertahankan tekanan harga. Di saat yang sama, gangguan dari sisi pasokan berpotensi kembali meningkatkan inflasi.
Kondisi tersebut membuat ruang bagi pelonggaran kebijakan moneter menjadi lebih terbatas. The Fed perlu memastikan bahwa tekanan inflasi benar-benar mereda sebelum mempertimbangkan perubahan arah kebijakan.
Sinyal untuk Pasar Keuangan Global
Sinyal bahwa The Fed masih membuka peluang kenaikan suku bunga dapat menjadi perhatian bagi pasar keuangan global. Jika ekspektasi kenaikan kembali menguat, imbal hasil obligasi AS berpotensi tetap tinggi dan dolar AS dapat memperoleh dukungan.
Bagi pasar negara berkembang, kondisi tersebut dapat meningkatkan perhatian terhadap arus modal, nilai tukar, dan biaya pendanaan eksternal. Pasar Indonesia juga akan mencermati perkembangan tersebut, terutama karena Bank Indonesia tengah menghadapi tekanan terhadap rupiah dan harus mempertimbangkan perbedaan kebijakan suku bunga dengan The Fed.
Dengan demikian, meskipun The Fed telah menaikkan suku bunga pada September, pernyataan Musalem menunjukkan bahwa siklus pengetatan belum tentu berakhir. Arah kebijakan berikutnya akan sangat bergantung pada perkembangan inflasi, permintaan domestik, dan tekanan pasokan dalam beberapa bulan mendatang.

