[Medan | 11 Agustus 2026] Bursa saham Asia diperkirakan bergerak terbatas pada perdagangan Selasa (11/8) menjelang rilis data inflasi Amerika Serikat (AS), di tengah kembali meningkatnya kekhawatiran terhadap pasokan energi setelah harapan tercapainya kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz memudar.
Harga minyak mentah AS bergerak stabil di kisaran US$82 per barel pada perdagangan awal setelah menguat sekitar 9% dalam tiga sesi sebelumnya. Kenaikan harga minyak mencerminkan meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap risiko gangguan pasokan energi akibat konflik di Timur Tengah.
Kontrak berjangka saham menunjukkan pembukaan yang relatif datar untuk indeks di Sydney dan Hong Kong, sementara bursa Tokyo ditutup karena libur. Kontrak berjangka S&P 500 juga bergerak stabil setelah indeks acuan Wall Street tersebut ditutup hampir tidak berubah pada Senin (10/8).
Harapan Pembukaan Selat Hormuz Memudar
Sentimen pasar kembali tertekan setelah Presiden AS Donald Trump mengecam tuntutan Iran terkait kompensasi sebagai bagian dari perundingan untuk mengakhiri konflik. Sikap tersebut meredupkan harapan tercapainya kesepakatan dalam waktu dekat yang dapat membuka kembali Selat Hormuz.
Sebelumnya, Trump memberikan sinyal bahwa dirinya lebih memilih membiarkan tekanan ekonomi terhadap Iran meningkat dibandingkan melancarkan serangan baru. Namun, belum adanya kemajuan nyata dalam perundingan membuat investor kembali memperhitungkan risiko konflik berlangsung lebih lama.
Jose Torres dari Interactive Brokers mengatakan kegagalan pemerintah kedua negara untuk menggelar perundingan menjadi perhatian Wall Street. Pekan sebelumnya, pelaku pasar sempat menilai peluang tercapainya kesepakatan semakin terbuka. Kondisi tersebut menjadi penting bagi pasar karena Selat Hormuz merupakan jalur strategis bagi perdagangan energi global. Semakin lama gangguan berlangsung, semakin besar risiko kenaikan harga minyak dan tekanan terhadap inflasi global.
Inflasi AS Jadi Penentu Arah The Fed
Perhatian investor kini beralih ke data indeks harga konsumen (IHK) AS yang akan dirilis pada Rabu. Data tersebut menjadi salah satu indikator penting bagi ekspektasi kebijakan The Fed, terutama setelah pasar tenaga kerja AS mulai menunjukkan tanda perlambatan.
Berdasarkan median survei Bloomberg terhadap ekonom, IHK AS diperkirakan naik 0,1% pada Juli setelah turun 0,4% pada bulan sebelumnya. Jika inflasi tercatat lebih tinggi dari ekspektasi, kekhawatiran bahwa The Fed masih perlu mempertahankan atau bahkan menaikkan suku bunga dapat kembali menguat.
Chris Larkin dari E*Trade, bagian dari Morgan Stanley, mengatakan laporan ketenagakerjaan sebelumnya telah meredakan sebagian kekhawatiran terhadap kenaikan suku bunga The Fed pada bulan depan. Namun, kekhawatiran tersebut berpotensi kembali muncul apabila data inflasi pekan ini tidak lebih rendah dari perkiraan.
Gubernur Federal Reserve Bank of Cleveland Beth Hammack juga mengatakan sejumlah kenaikan suku bunga mungkin diperlukan untuk membawa inflasi kembali ke target. Namun, ia menegaskan belum ingin berspekulasi terlalu jauh mengenai hasil akhir kebijakan moneter.
Minyak Tinggi Menambah Risiko Inflasi
Kenaikan harga minyak menjadi faktor yang membuat prospek inflasi AS semakin kompleks. Di satu sisi, perlambatan pasar tenaga kerja dapat memberikan ruang bagi The Fed untuk mempertimbangkan pelonggaran kebijakan. Namun, di sisi lain, lonjakan harga energi dapat menciptakan tekanan inflasi baru.
Dengan harga minyak mentah AS telah naik sekitar 9% dalam tiga sesi, investor akan mencermati apakah kenaikan tersebut hanya bersifat sementara akibat risiko geopolitik atau mulai menjadi tekanan inflasi yang lebih persisten. Jika harga minyak tetap tinggi, ruang The Fed untuk bersikap dovish menjadi lebih terbatas. Kondisi tersebut berpotensi mempertahankan yield Treasury AS di level tinggi dan memberikan tekanan terhadap aset berisiko, termasuk saham dan obligasi negara berkembang.
Dampak ke Pasar
Bagi bursa Asia, kombinasi antara harga minyak yang tinggi dan ketidakpastian kebijakan The Fed cenderung menciptakan sentimen mixed hingga negatif dalam jangka pendek. Investor kemungkinan akan mengurangi posisi agresif sebelum mengetahui hasil data inflasi AS.
Untuk pasar saham Indonesia, kondisi tersebut berpotensi membatasi penguatan IHSG. Sektor yang sensitif terhadap harga energi dan biaya produksi dapat menghadapi tekanan apabila harga minyak terus meningkat, sementara sektor komoditas berpotensi mendapatkan dukungan dari kenaikan harga energi.
Di pasar valuta asing, sentimen tersebut cenderung memberikan dukungan terhadap dolar AS apabila data inflasi AS lebih tinggi dari perkiraan. Kondisi tersebut dapat memberikan tekanan terhadap rupiah, terutama jika pada saat yang sama yield Treasury AS kembali meningkat. Pasar obligasi juga menjadi salah satu aset yang paling sensitif. Inflasi AS yang lebih tinggi dari ekspektasi berpotensi mendorong yield UST naik karena pasar kembali memperhitungkan kebijakan The Fed yang lebih ketat. Kenaikan yield global tersebut dapat menekan harga SUN Indonesia dan meningkatkan volatilitas rupiah.
Sebaliknya, apabila inflasi AS lebih rendah dari perkiraan, tekanan terhadap yield UST berpotensi mereda. Kondisi tersebut dapat membuka ruang bagi penguatan aset berisiko, termasuk saham Asia, rupiah, dan obligasi negara berkembang.

