[Medan | 2 Juli 2026] Ketua Federal Reserve (The Fed) Kevin Warsh menyampaikan pidato perdananya di ajang tahunan European Central Bank (ECB) Forum on Central Banking di Sintra, Portugal. Dalam kesempatan tersebut, Warsh menegaskan bahwa risiko inflasi di Amerika Serikat mulai mereda dalam beberapa pekan terakhir, namun bank sentral tetap berkomitmen mengembalikan inflasi menuju target 2%.
“Ekspektasi inflasi dalam beberapa pekan terakhir telah menurun, begitu pula risiko inflasi,” ujar Warsh. Pernyataan tersebut langsung direspons positif oleh pasar. Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS tenor dua tahun turun ke level terendah pada sesi perdagangan setelah investor menilai tekanan inflasi mulai berkurang.
Meski demikian, Warsh belum menjelaskan indikator harga tertentu yang menjadi dasar penilaiannya. Data terbaru menunjukkan inflasi berbasis Personal Consumption Expenditures (PCE) masih berada di level 4,1% secara tahunan, sementara inflasi inti tercatat 3,4%. Namun, ia menilai penurunan harga energi dan bahan bakar seiring membaiknya hubungan AS-Iran menjadi faktor yang membantu meredakan tekanan harga.
Warsh kembali menegaskan bahwa prioritas utama Federal Reserve adalah menjaga stabilitas harga. “Kami akan memastikan stabilitas harga di Amerika Serikat. Strategi dan langkah kebijakan selanjutnya akan diputuskan pada waktunya.”
Tegaskan Independensi The Fed
Dalam pidatonya, Warsh juga menekankan bahwa Federal Reserve akan tetap menjalankan kebijakan secara independen, meskipun Presiden Donald Trump terus mendorong bank sentral agar segera memangkas suku bunga. Menurutnya, independensi bank sentral merupakan prinsip yang tidak akan berubah.
Warsh juga memastikan The Fed tidak akan kembali memberikan forward guidance atau panduan mengenai arah suku bunga di masa depan. Seluruh keputusan akan ditentukan berdasarkan perkembangan data ekonomi pada saat rapat kebijakan berlangsung. Rapat Federal Open Market Committee (FOMC) berikutnya dijadwalkan berlangsung pada 28–29 Juli 2026.
Meski pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga masih terbuka tahun ini, Warsh menolak memberikan sinyal apakah The Fed akan menaikkan ataupun mempertahankan suku bunga pada pertemuan mendatang.
Bentuk Lima Gugus Tugas Baru
Warsh turut mengumumkan pembentukan lima gugus tugas (task force) yang akan mengevaluasi berbagai aspek kebijakan Federal Reserve, meliputi strategi komunikasi, kerangka inflasi, pengelolaan neraca, produktivitas dan pasar tenaga kerja, serta penggunaan data dalam proses pengambilan keputusan. Ia mengatakan susunan anggota gugus tugas tersebut akan diumumkan dalam waktu dekat dan melibatkan para ahli independen, termasuk sejumlah pakar dari luar Amerika Serikat.
Pengurangan Neraca The Fed Berlangsung Bertahap
Mengenai neraca Federal Reserve, Warsh kembali menyuarakan pandangannya bahwa ukuran aset bank sentral saat ini masih terlalu besar. Neraca The Fed saat ini mencapai sekitar US$6,7 triliun, jauh lebih tinggi dibandingkan sebelum pandemi Covid-19.
Meski demikian, Warsh menegaskan setiap keputusan untuk mengurangi kepemilikan aset (balance sheet normalization) akan dilakukan secara bertahap dan melalui pembahasan yang matang di FOMC.
Menurutnya, proses normalisasi tersebut tidak mungkin berlangsung dalam waktu singkat. Pandangan tersebut memperkuat ekspektasi pelaku pasar bahwa pengurangan neraca The Fed secara signifikan baru berpotensi dimulai pada 2027.
AI Dinilai Akan Dorong Produktivitas
Warsh juga menyinggung perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Menurutnya, masih terlalu dini untuk menilai apakah lonjakan investasi AI akan memicu tekanan inflasi. Sebaliknya, ia meyakini AI berpotensi meningkatkan produktivitas dan kapasitas produksi ekonomi dalam jangka panjang.
Warsh menggambarkan perkembangan AI sebagai perubahan struktural besar yang baru memasuki tahap awal dan diperkirakan dampaknya terhadap perekonomian akan semakin terlihat dalam beberapa bulan mendatang.

