[Medan | 11 Agustus 2026] Presiden Prabowo Subianto telah mengirimkan surat kepada Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) terkait calon Gubernur Bank Indonesia (BI), dengan Destry Damayanti sebagai calon tunggal untuk menggantikan Perry Warjiyo. Pencalonan tersebut disambut positif pasar dan turut memperkuat sentimen terhadap rupiah, meski penguatan mata uang Garuda tidak sepenuhnya berasal dari faktor domestik.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengatakan Presiden telah menyampaikan satu nama calon Gubernur BI kepada DPR. “Namanya tunggal satu nama bu Destry Damayanti,” ungkap Prasetyo kepada wartawan di Gedung Nusantara III, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (10/8/2026). Destry saat ini menjabat sebagai Pejabat Sementara Gubernur BI setelah Perry Warjiyo mengundurkan diri. Surat Presiden tersebut juga mencantumkan calon Deputi Gubernur Senior BI.
Pasar Sambut Positif Pencalonan Destry
Rupiah langsung menunjukkan penguatan setelah pemerintah mengumumkan pencalonan Destry. Data Bloomberg pada pukul 15.00 WIB menunjukkan rupiah berada di level Rp17.741 per dolar AS, menguat lebih dari 0,85%. Penguatan tersebut menunjukkan bahwa pasar menerima pencalonan Destry secara positif. Namun, penguatan rupiah tidak dapat sepenuhnya disebut sebagai Destry effect karena terdapat sejumlah faktor eksternal yang turut memengaruhi pergerakan dolar AS.
Pengamat komoditas dan mata uang Ibrahim Assuaibi menilai pencalonan Destry telah sesuai dengan ekspektasi pasar. Menurutnya, pengganti gubernur BI yang mengundurkan diri umumnya berasal dari kalangan incumbent sehingga pasar tidak menghadapi kejutan besar dari sisi calon yang diajukan pemerintah. “Kalau saya lihat, bahwa calon gubernur tunggal BI, Ibu Destry itu sudah sesuai dengan ekspektasi pasar,” kata Ibrahim.
Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Rizal Taufikurahman juga menilai terdapat faktor eksternal yang cukup dominan dalam pergerakan dolar AS. “Jadi, penguatan rupiah lebih mencerminkan kombinasi antara global tailwind dan berkurangnya ketidakpastian domestik. Kabar pencalonan Destry memperkuat sentimen positif tersebut, tetapi bukan satu-satunya faktor penggerak,” kata Rizal.
Kredibilitas dan Independensi BI Jadi Kunci
Setelah pencalonan resmi disampaikan, perhatian pasar berikutnya akan tertuju pada proses persetujuan DPR dan bagaimana Destry akan menjalankan kebijakan moneter apabila nantinya ditetapkan sebagai Gubernur BI.
Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian menilai keberhasilan gubernur BI tidak hanya dapat diukur dari kemampuan menjaga inflasi dan stabilitas nilai tukar. Menurutnya, tantangan yang lebih besar adalah bagaimana BI beradaptasi terhadap perubahan ekonomi global tanpa mengorbankan kredibilitas dan independensinya.
“Saya berharap Ibu Destry kelak tidak hanya dikenang sebagai Gubernur BI yang menjaga stabilitas. Saya berharap beliau dikenang sebagai Gubernur yang berhasil membawa BI memasuki fase baru bank sentral modern tetap independen, komunikasinya semakin kuat, bauran kebijakannya semakin kaya, risetnya semakin visioner, dan mampu menjelaskan perubahan dunia kepada pasar maupun masyarakat,” kata Fakhrul.
Menurutnya, perubahan yang dihadapi Indonesia bukan hanya persoalan siklus ekonomi. Perubahan teknologi, struktur produksi global, serta dinamika arus modal membuat bank sentral harus terus menyesuaikan kebijakan.
Pengalaman dan rekam jejak Destry dinilai memberikan fondasi untuk menghadapi perubahan tersebut. Bagi pasar, hal ini menjadi penting karena kredibilitas bank sentral merupakan salah satu faktor utama dalam menentukan ekspektasi inflasi, nilai tukar, dan yield obligasi pemerintah.
Dampak ke Rupiah dan Ekspektasi Suku Bunga
Pencalonan Destry berpotensi mengurangi policy uncertainty di pasar domestik. Karena Destry merupakan pejabat incumbent dan bukan nama yang sepenuhnya baru bagi pasar, investor tidak menghadapi perubahan arah kebijakan yang terlalu mendadak.
Dampak positif paling cepat terlihat pada rupiah. Jika pasar menilai kesinambungan kebijakan BI tetap terjaga, risiko terhadap aset rupiah dapat menurun. Namun, penguatan rupiah tetap sangat bergantung pada faktor eksternal, terutama arah dolar AS, yield Treasury AS, harga minyak, dan ekspektasi kebijakan The Fed.
Karena itu, penguatan rupiah ke Rp17.741 per dolar AS tidak seharusnya dibaca sebagai efek pencalonan Destry semata. Faktor global tetap menjadi penentu utama, sementara pencalonan tersebut lebih berperan sebagai penguat sentimen domestik.
Dampak ke SUN dan IHSG
Bagi pasar obligasi, kepastian mengenai calon Gubernur BI cenderung menjadi sentimen positif karena mengurangi risiko perubahan kebijakan moneter secara tiba-tiba. Jika pasar melihat Destry mampu menjaga kredibilitas BI sekaligus mempertahankan stabilitas rupiah dan inflasi, risk premium aset rupiah berpotensi turun.
Kondisi tersebut dapat mendukung harga SUN dan menekan yield, terutama apabila bersamaan dengan penurunan yield UST dan pelemahan dolar AS. Namun, obligasi Indonesia tetap menghadapi risiko eksternal. Jika yield Treasury AS kembali naik akibat inflasi AS atau harga minyak yang tinggi, ruang penguatan SUN dapat terbatas meskipun ketidakpastian domestik telah berkurang.
Untuk IHSG, pencalonan Destry juga cenderung positif karena stabilitas rupiah dan kepastian kebijakan moneter dapat meningkatkan kepercayaan investor terhadap aset domestik. Namun, arah IHSG tetap akan lebih sensitif terhadap arus dana asing, kondisi ekonomi global, dan perkembangan kebijakan fiskal maupun moneter.

