[Medan | 11 Agustus 2026] Harga minyak mentah kembali melonjak sekitar 5% pada perdagangan Senin (10/8/2026) setelah harapan pembukaan kembali Selat Hormuz memudar. Kebuntuan antara Iran dan Amerika Serikat (AS), ditambah gangguan pasokan dari Timur Tengah, Rusia, dan rendahnya cadangan strategis AS, membuat pasar kembali memperhitungkan risiko pasokan minyak global yang lebih ketat.
Kontrak minyak mentah Brent ditutup naik US$4,17 atau 4,99% menjadi US$87,72 per barel. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) AS menguat US$3,95 atau 5,05% menjadi US$82,13 per barel. Kenaikan tersebut merupakan yang terbesar sejak 29 Juli untuk kedua kontrak. Pergerakan ini membalikkan sebagian tekanan pekan sebelumnya. Brent dan WTI sempat anjlok lebih dari 7% setelah pasar berharap Iran dan Oman segera mencapai kesepakatan yang memungkinkan pembukaan kembali jalur pelayaran melalui Selat Hormuz.
Harapan Pembukaan Hormuz Kembali Meredup
Iran sebelumnya menyatakan hampir mencapai kesepakatan final dengan Oman untuk menetapkan jalur pelayaran baru melalui Selat Hormuz. Namun, Teheran menegaskan pembukaan jalur tersebut tetap bergantung pada sejumlah tuntutan terhadap AS. Iran meminta pencabutan sanksi, pemberian kompensasi, serta penghentian ancaman militer. Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump menuntut Iran membayar kompensasi atas orang-orang yang disebut telah dibunuh maupun mengalami luka parah akibat konflik.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi mengatakan Iran dan AS saat ini tidak sedang melakukan pembicaraan. Teheran juga menyatakan tidak akan memulai kembali perundingan selama Washington dinilai masih melanggar kesepakatan sementara yang ditandatangani pada Juni 2026.
Kebuntuan tersebut membuat pasar kembali memperkirakan gangguan pasokan dapat berlangsung lebih lama. “Sebagian besar pedagang menilai pasokan yang lebih ketat dalam jangka pendek kemungkinan akan berlangsung lebih lama,” kata Dennis Kissler, Senior Vice President of Trading di BOK Financial.
Gangguan Pasokan Tidak Hanya dari Hormuz
Risiko terhadap pasokan minyak global juga datang dari serangan kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran terhadap kilang Jazan milik Saudi Aramco pada Minggu (9/8). Saudi Aramco menunda pengoperasian kembali kilang berkapasitas 400.000 barel per hari tersebut hingga 30 Agustus setelah dua serangan Houthi terjadi dalam beberapa pekan terakhir. Penundaan tersebut menambah kekhawatiran bahwa kapasitas pengolahan minyak di kawasan Timur Tengah masih menghadapi risiko gangguan.
Dari Rusia, Ukraina juga terus menyerang infrastruktur energi. Serangan terbaru menghantam kilang minyak Taneco di Tatarstan serta fasilitas petrokimia ZapSibNeftekhim di wilayah Tyumen. Tekanan pasokan semakin diperkuat oleh kondisi Strategic Petroleum Reserve (SPR) AS. Persediaan minyak mentah dalam SPR turun sekitar 6,1 juta barel menjadi 298,7 juta barel pada pekan lalu. Level tersebut merupakan yang terendah sejak Januari 1983 berdasarkan data Departemen Energi AS.
Selat Hormuz Jadi Kunci Pasar Minyak
Risiko di Selat Hormuz menjadi perhatian utama karena jalur strategis tersebut memiliki peran besar dalam perdagangan energi global. Sebelum konflik Timur Tengah dimulai pada akhir Februari, sekitar seperlima minyak dunia dan LNG global melewati Selat Hormuz. Karena itu, semakin lama jalur tersebut terganggu, semakin besar risiko pasar menghadapi defisit pasokan dalam jangka pendek. Kenaikan Brent menuju US$88 per barel menunjukkan bahwa premi risiko geopolitik kembali masuk ke harga minyak setelah sebelumnya sempat berkurang akibat harapan tercapainya kesepakatan.
Dampak ke Pasar
Kenaikan harga minyak menjadi sentimen negatif bagi pasar secara umum karena meningkatkan risiko inflasi dan menekan ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter global. Bagi AS, minyak yang bertahan di atas US$80 per barel dapat memperbesar tekanan terhadap inflasi konsumen dan membuat ruang The Fed untuk menurunkan suku bunga menjadi lebih terbatas.
Kondisi tersebut berpotensi mendorong yield Treasury AS tetap tinggi atau bahkan kembali naik. Jika yield UST meningkat, tekanan dapat merambat ke pasar negara berkembang melalui penguatan dolar AS dan kenaikan required yield aset berdenominasi rupiah.
Bagi Indonesia, dampaknya terhadap IHSG cenderung mixed. Emiten sektor energi dan komoditas dapat memperoleh keuntungan dari harga minyak yang lebih tinggi. Namun, bagi pasar secara keseluruhan, kenaikan harga energi meningkatkan risiko inflasi, biaya produksi, dan tekanan terhadap daya beli sehingga dapat membatasi ruang penguatan IHSG.
Rupiah juga berpotensi menghadapi tekanan apabila kenaikan minyak mendorong penguatan dolar AS. Indonesia sebagai net importer minyak akan menghadapi peningkatan biaya impor energi apabila harga minyak bertahan tinggi. Kondisi tersebut dapat memperlebar tekanan pada neraca perdagangan dan kebutuhan valuta asing.
Di pasar obligasi, kenaikan harga minyak menjadi risiko tambahan. Inflasi yang lebih tinggi dan potensi bertahannya suku bunga global pada level tinggi dapat mendorong yield SUN naik sehingga harga obligasi tertekan. Dalam kondisi seperti ini, investor cenderung lebih berhati-hati terhadap obligasi bertenor panjang yang memiliki sensitivitas lebih tinggi terhadap perubahan yield.

