[Medan | 3 Juli 2026] Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (2/7/2026), meski dolar global justru bergerak melemah. Kondisi ini menunjukkan tekanan terhadap mata uang domestik masih berasal dari faktor fundamental dalam negeri.
Berdasarkan data Refinitiv, rupiah ditutup melemah 0,32% ke level Rp17.988 per dolar AS, hanya terpaut tipis dari level psikologis Rp18.000 per dolar AS. Sepanjang perdagangan, rupiah bergerak di kisaran Rp17.960 hingga Rp17.995 per dolar AS setelah dibuka melemah sejak awal sesi.
Di sisi lain, US Dollar Index (DXY) yang mengukur kekuatan dolar AS terhadap enam mata uang utama dunia justru turun 0,21% ke level 101,18. Normalnya, pelemahan dolar global memberikan ruang bagi mata uang emerging market, termasuk rupiah, untuk menguat. Namun kali ini sentimen domestik lebih dominan membebani pergerakan rupiah.
Tekanan utama berasal dari data neraca perdagangan Indonesia yang kembali mencatat defisit pada Mei 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca perdagangan mengalami defisit US$1,61 miliar, setelah ekspor tercatat sebesar US$23,20 miliar, lebih rendah dibandingkan impor yang mencapai US$24,81 miliar.
Defisit tersebut mengakhiri rekor surplus perdagangan Indonesia selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020 sekaligus menjadi defisit terdalam sejak April 2019. Kondisi ini meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap ketahanan sektor eksternal Indonesia, terutama di tengah tingginya kebutuhan impor energi.
Ekonom Senior DBS Bank Radhika Rao menilai kombinasi harga minyak dunia yang sempat tinggi, pelemahan rupiah, serta belum adanya penyesuaian harga BBM domestik telah memperbesar tekanan terhadap neraca perdagangan. Di sisi lain, ekspor juga melemah, terutama pada komoditas minyak sawit, besi dan baja, serta mesin, meski ekspor nikel masih menunjukkan ketahanan.
Meski demikian, prospek neraca perdagangan diperkirakan mulai membaik pada paruh kedua tahun ini. Meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah telah mendorong penurunan harga minyak dunia, sehingga berpotensi mengurangi nilai impor migas dan memperbaiki posisi transaksi perdagangan Indonesia pada kuartal III-2026.
Selain faktor perdagangan, pelemahan rupiah juga mencerminkan kehati-hatian investor terhadap aset domestik. Arus modal asing masih cenderung selektif di tengah tingginya ketidakpastian global serta ekspektasi bahwa suku bunga di Amerika Serikat akan tetap berada pada level tinggi dalam waktu yang lebih lama.
Dampak ke Pasar Keuangan
Melemahnya rupiah berpotensi meningkatkan tekanan inflasi impor serta biaya produksi bagi sektor usaha yang bergantung pada bahan baku impor. Kondisi tersebut juga dapat membatasi ruang Bank Indonesia untuk melonggarkan kebijakan moneternya dalam jangka pendek.
Bagi pasar obligasi, pelemahan rupiah dapat menahan minat investor asing terhadap Surat Berharga Negara (SBN) apabila tidak diimbangi dengan imbal hasil yang lebih menarik. Sementara bagi pasar saham, tekanan nilai tukar cenderung berdampak negatif terhadap emiten yang memiliki beban utang maupun biaya operasional dalam mata uang asing, meskipun sektor berbasis ekspor berpotensi memperoleh manfaat dari pelemahan rupiah.

