[Medan | 21 Juli 2026] Kelompok Houthi di Yaman yang didukung Iran resmi mengumumkan blokade maritim terhadap Arab Saudi, memperluas eskalasi konflik Timur Tengah dari Selat Hormuz ke Laut Merah. Langkah tersebut meningkatkan risiko terganggunya perdagangan global sekaligus membuka potensi gangguan baru terhadap distribusi minyak dunia.
Houthi menyatakan embargo laut diberlakukan dengan prinsip “mata ganti mata” sebagai respons atas apa yang mereka sebut sebagai blokade dan dukungan Arab Saudi terhadap pemerintahan Yaman yang menjadi rival mereka.
Bab el-Mandeb Berpotensi Ditutup
Ancaman terbesar kini tertuju pada Selat Bab el-Mandeb, jalur pelayaran strategis yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden. Iran disebut terus mendorong Houthi untuk menutup akses selat tersebut apabila Amerika Serikat tetap melanjutkan serangan terhadap infrastruktur Iran. Apabila Bab el-Mandeb benar-benar ditutup, sebagian besar ekspor minyak Arab Saudi menuju Eropa dan kawasan sekitarnya berpotensi terganggu.
Penutupan jalur tersebut diperkirakan dapat memangkas pasokan minyak global hingga sekitar 7%, memperburuk tekanan pasokan yang sebelumnya telah muncul akibat konflik di kawasan Teluk.
Biaya Pelayaran Langsung Melonjak
Pengumuman blokade segera direspons oleh pasar logistik global. Premi asuransi kapal yang melintasi Laut Merah meningkat tajam karena risiko keamanan yang semakin tinggi. Bagi pelayaran komersial, kondisi tersebut berpotensi memaksa pengalihan rute menuju Tanjung Harapan di Afrika Selatan, sehingga meningkatkan biaya logistik sekaligus memperpanjang waktu distribusi barang internasional.
Arab Saudi Tolak Tuduhan
Pemerintah Arab Saudi mengecam langkah Houthi dan membantah seluruh tuduhan yang dilontarkan kelompok tersebut. Riyadh menegaskan bahwa selama ini mereka bekerja sama dengan pemerintah Yaman yang diakui secara internasional melalui berbagai program pembangunan, dukungan fiskal, hingga penyediaan bahan bakar untuk pembangkit listrik.
Diplomasi Berjalan di Tengah Eskalasi
Di tengah meningkatnya konflik, berbagai negara terus mengupayakan penyelesaian diplomatik. Sejumlah mediator internasional dilaporkan tengah mengusulkan gencatan senjata selama 10 hari untuk membuka ruang negosiasi baru. Iran juga disebut meminta Pakistan kembali mengambil peran sebagai mediator regional di tengah konflik yang terus meluas.
Namun di lapangan, operasi militer masih terus berlangsung. Amerika Serikat dilaporkan melanjutkan serangan udara ke sejumlah wilayah Iran, sementara Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) membalas dengan serangan terhadap sejumlah fasilitas militer AS di Yordania, Kuwait, dan Suriah menggunakan rudal balistik serta drone.
Risiko Pasar Energi Semakin Meningkat
Dengan ketegangan yang kini meluas dari Selat Hormuz ke Laut Merah, pasar energi global menghadapi risiko gangguan pada dua jalur distribusi minyak paling strategis di dunia secara bersamaan.
Apabila blokade Laut Merah benar-benar menghambat lalu lintas kapal tanker, harga minyak berpotensi kembali mengalami kenaikan karena meningkatnya kekhawatiran terhadap pasokan global. Kondisi tersebut juga dapat memperbesar tekanan inflasi, meningkatkan biaya logistik internasional, serta mempersempit ruang bank-bank sentral untuk mulai melonggarkan kebijakan moneter dalam waktu dekat.

