[Medan | 13 Agustus 2026] Presiden Prabowo Subianto dijadwalkan menyampaikan Pidato Kenegaraan sekaligus keterangan pemerintah atas RAPBN 2027 dan Nota Keuangan pada Jumat (14/8/2026). Bagi pasar keuangan, agenda tersebut menjadi salah satu katalis domestik utama karena akan memberikan gambaran mengenai arah kebijakan fiskal pemerintah, prioritas belanja, serta strategi mendorong pertumbuhan ekonomi tahun depan.
Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR RI-DPD RI akan dimulai pukul 08.30 WIB di Gedung Kura-Kura, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta. Rangkaian agenda pagi tersebut dijadwalkan berlangsung hingga sekitar pukul 11.00 WIB.
Selanjutnya, pada pukul 14.30 WIB, Presiden Prabowo akan menyampaikan keterangan pemerintah atas Rancangan Undang-Undang tentang APBN Tahun Anggaran 2027 dalam Rapat Paripurna DPR RI. Dalam agenda tersebut, pemerintah juga akan menyampaikan Nota Keuangan dan arah kebijakan fiskal untuk tahun mendatang.
Ketua DPR RI Puan Maharani mengatakan penyampaian RAPBN 2027 diharapkan memberikan gambaran mengenai program-program prioritas pemerintah dan dampaknya terhadap perekonomian nasional.
Bunga PNM Mekaar Dipangkas Jadi 8%
Salah satu kebijakan yang berpotensi menjadi perhatian dalam pidato Presiden adalah penurunan suku bunga pinjaman bagi nasabah program Permodalan Nasional Madani (PNM) Mekaar.
Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Maman Abdurrahman mengatakan pemerintah telah memutuskan memangkas bunga pinjaman ultra mikro dari rata-rata sekitar 25% menjadi 8% per tahun. Kebijakan tersebut ditargetkan mulai berlaku pada awal September 2026 dan akan diumumkan secara resmi oleh Presiden Prabowo.
Keputusan tersebut diambil setelah rapat koordinasi antara Kementerian UMKM, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Kementerian Keuangan, serta Danantara untuk menindaklanjuti arahan Presiden. Menurut pemerintah, tingkat bunga sekitar 25% selama ini dinilai terlalu membebani masyarakat ultra mikro, khususnya nasabah yang menggunakan pinjaman sekitar Rp5 juta-Rp12 juta untuk modal usaha harian.
“Menurut Pak Presiden, ini sangat membebani. Kasihan ibu-ibu masyarakat kecil mau pinjam uang sekitar Rp5 juta sampai Rp12 juta kok dibebankan dengan bunga yang cukup tinggi. Alhamdulillah sudah kita exercise dan diputuskan bunganya diturunkan dari kurang lebih 25 persen sekarang menjadi 8 persen,” kata Maman.
Kebijakan Fiskal Jadi Kunci Pasar
Bagi pasar keuangan, perhatian utama dari RAPBN 2027 bukan hanya besarnya anggaran, tetapi bagaimana pemerintah menyeimbangkan antara dorongan pertumbuhan ekonomi dan disiplin fiskal.
Kebijakan penurunan bunga Mekaar memberikan gambaran bahwa pemerintah masih menempatkan daya beli dan pemberdayaan ekonomi masyarakat sebagai salah satu agenda penting. Penurunan biaya pinjaman dapat meningkatkan ruang usaha bagi pelaku ultra mikro dan berpotensi mendorong konsumsi apabila tambahan likuiditas tersebut masuk kembali ke aktivitas ekonomi.
Namun, dari sisi pasar obligasi, investor akan melihat bagaimana program-program tersebut dibiayai. Jika kebijakan fiskal menjadi lebih ekspansif sementara kebutuhan pembiayaan meningkat, pasar dapat memperhitungkan potensi kenaikan penerbitan surat utang dan tekanan terhadap yield SUN.
Sebaliknya, apabila pemerintah mampu menjaga defisit dan kebutuhan pembiayaan tetap kredibel sembari memberikan stimulus yang tepat sasaran, kebijakan fiskal dapat menjadi katalis positif bagi pertumbuhan tanpa memberikan tekanan besar terhadap pasar obligasi.
Dampak ke IHSG, Rupiah, dan Obligasi
Untuk IHSG, RAPBN 2027 berpotensi memberikan sentimen positif apabila pemerintah menunjukkan strategi yang jelas untuk menjaga konsumsi, investasi, dan pertumbuhan ekonomi. Sektor perbankan, konsumer, konstruksi, serta emiten yang terkait dengan belanja pemerintah dapat menjadi kelompok yang paling sensitif terhadap arah kebijakan fiskal.
Penurunan bunga Mekaar juga berpotensi memberikan sentimen positif terhadap konsumsi dan aktivitas usaha mikro dalam jangka menengah. Namun, dampaknya terhadap laba emiten besar kemungkinan tidak langsung terlihat karena program tersebut lebih berkaitan dengan segmen ultra mikro dan membutuhkan waktu untuk tercermin dalam aktivitas ekonomi.
Bagi rupiah, kebijakan fiskal yang kredibel akan menjadi faktor penting. Jika RAPBN dinilai mampu menjaga stabilitas fiskal, sentimen terhadap aset Indonesia dapat membaik dan membantu rupiah. Sebaliknya, kebijakan yang dinilai terlalu ekspansif dapat meningkatkan kekhawatiran terhadap defisit dan kebutuhan pembiayaan sehingga memberikan tekanan terhadap rupiah.
Sementara itu, obligasi akan menjadi salah satu aset yang paling sensitif terhadap RAPBN 2027. Investor akan mencermati target defisit, kebutuhan penerbitan utang, strategi pembiayaan, serta asumsi makro yang digunakan pemerintah. Defisit dan kebutuhan penerbitan yang lebih besar dari ekspektasi berpotensi mendorong yield naik, sementara fiskal yang kredibel dan kebutuhan pembiayaan yang terkendali dapat mendukung penurunan yield.
Pasar Menunggu Arah Kebijakan 2027
RAPBN 2027 menjadi penting karena disampaikan ketika pasar masih menghadapi kombinasi ketidakpastian global, tekanan harga energi, serta kebutuhan menjaga daya beli domestik. Pemerintah perlu menyeimbangkan dua kepentingan: memberikan stimulus yang cukup untuk menjaga pertumbuhan sekaligus mempertahankan kepercayaan investor terhadap kredibilitas fiskal Indonesia.
Kebijakan bunga Mekaar sebesar 8% menjadi salah satu contoh pendekatan afirmatif pemerintah terhadap kelompok ultra mikro. Jika implementasinya efektif, kebijakan tersebut dapat membantu memperkuat daya beli dan aktivitas ekonomi dari lapisan bawah. Namun, investor akan tetap melihat dampaknya terhadap kualitas pembiayaan dan keberlanjutan fiskal maupun keuangan lembaga terkait.
Dampak ke Pasar
Secara keseluruhan, pidato RAPBN 2027 berpotensi menjadi mixed to positive bagi pasar, tergantung seberapa besar stimulus yang diberikan dan bagaimana pemerintah menjelaskan sumber pembiayaannya.
Jika pemerintah menyampaikan kombinasi kebijakan yang pro-pertumbuhan, menjaga daya beli, tetapi tetap kredibel dalam mengelola defisit, IHSG berpeluang mendapatkan katalis positif dan rupiah dapat lebih stabil. Kondisi tersebut juga dapat mendukung SUN apabila kebutuhan penerbitan utang tidak meningkat secara signifikan.
Sebaliknya, apabila pasar melihat kebijakan fiskal terlalu ekspansif dan kebutuhan pembiayaan melonjak, tekanan dapat muncul terutama pada rupiah dan obligasi. Yield SUN berpotensi naik karena investor meminta risk premium yang lebih tinggi untuk menyerap tambahan pasokan surat utang.
Prospek dan Strategi
Untuk investor, fokus utama besok bukan sekadar ada atau tidaknya stimulus, tetapi kualitas stimulus dan cara pemerintah membiayainya. Pasar kemungkinan akan memberikan respons positif terhadap kebijakan yang mampu meningkatkan konsumsi dan pertumbuhan tanpa mengorbankan kredibilitas fiskal.
Untuk saham, investor dapat mencermati sektor yang paling sensitif terhadap konsumsi dan belanja pemerintah, tetapi tetap dengan pendekatan selective buying. Untuk obligasi, strategi sebaiknya menunggu kejelasan target defisit dan kebutuhan pembiayaan dalam RAPBN 2027 sebelum mengambil posisi agresif.
Jika arah fiskal dinilai kredibel dan kebutuhan penerbitan terkendali, SUN tenor pendek-menengah lebih menarik untuk dipertimbangkan, terutama jika didukung ekspektasi penurunan suku bunga BI. Namun, apabila defisit dan penerbitan utang lebih tinggi dari perkiraan, investor perlu lebih berhati-hati terhadap tenor panjang karena paling sensitif terhadap kenaikan yield.
Dengan begitu, pidato Prabowo besok akan menjadi ujian penting bagi pasar: seberapa besar pemerintah ingin mendorong pertumbuhan pada 2027, dan apakah dorongan tersebut tetap dapat dilakukan tanpa meningkatkan kekhawatiran investor terhadap stabilitas fiskal.

