[Medan | 18 Juni 2026] Rupiah memulai perdagangan Kamis (18/6) dengan penguatan tipis ke area Rp17.850 per dolar AS. Namun, penguatan tersebut terjadi di tengah perubahan sentimen global setelah Federal Reserve mempertahankan suku bunga acuannya sekaligus memberikan sinyal yang lebih hawkish dibanding ekspektasi pasar.
Meski harga minyak dunia terus turun dan ketegangan geopolitik mereda pasca kesepakatan damai AS-Iran, arah rupiah dalam jangka pendek kini kembali sangat ditentukan oleh kebijakan The Fed dan keputusan Bank Indonesia yang akan diumumkan hari ini.
Kabar Baik: Tekanan Eksternal Mulai Mereda
Beberapa faktor yang sebelumnya menekan rupiah mulai menunjukkan perbaikan. Kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran mendorong harga minyak dunia turun tajam ke level terendah dalam tiga bulan terakhir. Brent kini berada di bawah US$80 per barel, jauh dari puncaknya yang sempat mendekati US$100 per barel saat konflik memanas.
Bagi Indonesia, kondisi ini sangat positif karena dapat mengurangi tekanan inflasi, memperbaiki prospek subsidi energi, dan mengurangi risiko pelebaran defisit transaksi berjalan akibat impor minyak.
Di sisi lain, kenaikan suku bunga darurat yang dilakukan Bank Indonesia sejak Mei lalu juga mulai menunjukkan hasil. Rupiah yang sempat mendekati Rp18.200 per dolar AS kini mulai bergerak stabil di bawah Rp17.900.
Kabar Buruk: The Fed Belum Selesai dengan Inflasi
Meski tekanan geopolitik mereda, hasil rapat The Fed semalam menjadi tantangan baru bagi rupiah. The Fed memang mempertahankan suku bunga di level 3,50%-3,75%. Namun yang menjadi perhatian pasar adalah dihapusnya sinyal pemangkasan suku bunga dan munculnya indikasi bahwa suku bunga AS masih berpotensi naik apabila inflasi kembali meningkat.
Dalam proyeksi terbaru, pejabat The Fed juga menaikkan outlook inflasi dan menunjukkan bahwa era suku bunga tinggi kemungkinan akan berlangsung lebih lama dari perkiraan sebelumnya.
Akibatnya, indeks dolar AS kembali menguat dan imbal hasil US Treasury berpotensi bertahan tinggi. Kondisi ini biasanya membuat investor global lebih memilih aset dolar dibanding aset negara berkembang, termasuk Indonesia.
Ada Dua Skenario untuk Rupiah
Jika Bank Indonesia hari ini mempertahankan suku bunga sambil memberikan pernyataan yang lebih optimistis mengenai stabilitas rupiah, pasar kemungkinan akan melihat bahwa kenaikan 75 basis poin sejak Mei sudah cukup untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Dalam skenario ini, rupiah berpotensi melanjutkan penguatan menuju area Rp17.700–17.800 per dolar AS.
Namun jika BI menyoroti kembali risiko inflasi, tekanan eksternal, dan dampak sikap hawkish The Fed, pasar dapat menafsirkan bahwa peluang kenaikan suku bunga lanjutan masih terbuka pada kuartal III. Skenario ini mungkin membantu menjaga rupiah tetap stabil, tetapi juga menunjukkan bahwa tekanan terhadap mata uang domestik belum sepenuhnya hilang.
Kesimpulan
Untuk saat ini, arah rupiah berada di persimpangan dua kekuatan besar. Di satu sisi, penurunan harga minyak dan meredanya konflik Timur Tengah memberikan angin segar yang mengurangi tekanan terhadap ekonomi Indonesia. Namun di sisi lain, sikap The Fed yang lebih hawkish membuat dolar AS kembali menarik bagi investor global.
Karena itu, keputusan BI hari ini menjadi sangat penting. Bukan hanya soal apakah suku bunga ditahan atau tidak, tetapi bagaimana BI menjelaskan prospek rupiah ke depan setelah The Fed kembali mengingatkan pasar bahwa perang melawan inflasi belum sepenuhnya selesai.

