[Medan | 30 Juli 2026] Federal Reserve (The Fed) kembali mempertahankan suku bunga acuannya pada kisaran 3,50%-3,75% dalam rapat Federal Open Market Committee (FOMC) yang digelar Rabu (29/7/2026) waktu setempat. Keputusan tersebut sesuai dengan ekspektasi mayoritas pelaku pasar dan menandai kelima kalinya secara berturut-turut bank sentral Amerika Serikat mempertahankan suku bunga.
Meski demikian, hasil rapat kali ini tetap menjadi perhatian karena menunjukkan perbedaan pandangan yang semakin besar di internal The Fed. Selain itu, Ketua The Fed Kevin Warsh juga tidak memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan pada pertemuan berikutnya di September, sehingga ketidakpastian pasar masih cukup tinggi.
Tiga Anggota Minta Suku Bunga Naik
Salah satu sorotan utama rapat kali ini adalah munculnya tiga suara berbeda (dissenting votes) yang mendukung kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin. Ketiga pejabat tersebut adalah Lorie Logan (Dallas Fed), Neel Kashkari (Minneapolis Fed), dan Beth Hammack (Cleveland Fed).
Mereka menilai inflasi masih terlalu tinggi sehingga kebijakan moneter perlu diperketat lebih lanjut. Jumlah suara berbeda tersebut menjadi yang terbanyak dalam beberapa tahun terakhir dan menunjukkan kubu hawkish di The Fed mulai memperoleh dukungan yang lebih besar.
The Fed Sengaja Tidak Memberikan Sinyal
Berbeda dengan periode sebelumnya ketika The Fed sering memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan berikutnya (forward guidance), kali ini Warsh memilih tidak memberikan sinyal apapun mengenai keputusan pada rapat September mendatang.
Menurutnya, kondisi ekonomi global masih terlalu dinamis sehingga bank sentral ingin lebih bergantung pada data dibanding memberikan proyeksi yang berpotensi berubah. Artinya, keputusan September sepenuhnya akan bergantung pada perkembangan inflasi, kondisi pasar tenaga kerja, harga minyak, serta dampak konflik geopolitik dalam beberapa minggu ke depan.
Pasar Obligasi Merespons Beragam
Reaksi pasar justru menunjukkan investor belum sepenuhnya yakin terhadap arah kebijakan The Fed. Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS tenor 30 tahun melonjak 11,5 basis poin menjadi 5,211%, level tertinggi sejak 2007. Kenaikan tersebut menunjukkan investor meminta kompensasi yang lebih tinggi karena khawatir inflasi akan bertahan dalam jangka panjang.
Sebaliknya, yield obligasi tenor dua tahun justru mengalami penurunan karena sebagian investor masih percaya peluang kenaikan suku bunga tahun ini tidak terlalu besar. Pergerakan tersebut menyebabkan kurva imbal hasil menjadi semakin curam (steepening), yang umumnya mencerminkan meningkatnya ketidakpastian terhadap prospek ekonomi dan inflasi jangka panjang.
Sikap Hawkish Mulai Menguat
Global Head of Fixed Income & Liquidity Solutions Goldman Sachs Asset Management, Kay Haigh, menilai The Fed mulai kehilangan kesabaran terhadap inflasi yang belum kembali ke target 2%. Menurutnya, meskipun data inflasi beberapa bulan terakhir menunjukkan perlambatan, kenaikan harga energi akibat konflik Timur Tengah berpotensi kembali meningkatkan tekanan inflasi.
Kelompok pejabat yang mendukung kenaikan suku bunga juga menilai inflasi masih membebani daya beli masyarakat sehingga kebijakan moneter perlu tetap ketat agar ekspektasi inflasi tidak kembali meningkat.
Dampaknya ke Pasar
Keputusan The Fed mempertahankan suku bunga sebenarnya memberikan sedikit kelegaan bagi pasar karena tidak ada kejutan berupa kenaikan suku bunga. Namun, nada pernyataan yang masih hawkish serta munculnya tiga suara yang mendukung kenaikan suku bunga membuat peluang kenaikan pada rapat September tetap terbuka.
Bagi pasar saham global, keputusan ini cenderung memberikan sentimen yang bercampur. Tidak adanya kenaikan suku bunga mendukung aset berisiko, tetapi sikap hawkish The Fed membatasi ruang penguatan karena biaya pendanaan berpotensi tetap tinggi lebih lama. Untuk IHSG, sentimen awal berpotensi positif, namun kenaikannya kemungkinan terbatas hingga muncul kepastian arah kebijakan The Fed berikutnya.
Di pasar obligasi, yield US Treasury yang masih tinggi berpotensi mempertahankan tekanan terhadap obligasi negara berkembang, termasuk Surat Berharga Negara (SBN) Indonesia. Investor asing cenderung tetap selektif karena selisih imbal hasil (yield spread) terhadap obligasi AS menjadi lebih sempit.
Bagi rupiah, keputusan ini belum menjadi katalis penguatan yang signifikan. Selama ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed masih bertahan, dolar AS berpotensi tetap kuat sehingga tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, masih berlanjut. Ruang penguatan rupiah baru akan lebih besar apabila inflasi AS kembali melandai dan pasar mulai meyakini siklus kenaikan suku bunga benar-benar telah berakhir.
Sementara itu, harga emas berpotensi bergerak lebih volatil. Di satu sisi, tidak adanya kenaikan suku bunga mendukung harga emas karena biaya peluang memegang aset tanpa imbal hasil menjadi lebih rendah. Namun di sisi lain, jika investor kembali memperkirakan The Fed akan menaikkan suku bunga pada September, penguatan dolar AS dan kenaikan yield obligasi dapat kembali menekan harga emas dalam jangka pendek.
Dengan begitu, fokus pasar kini bergeser ke data inflasi, ketenagakerjaan, serta perkembangan harga energi menjelang rapat FOMC September. Ketiga faktor tersebut akan menjadi penentu apakah The Fed benar-benar kembali menaikkan suku bunga atau memilih tetap mempertahankannya.

