[Medan | 30 Juli 2026] Harga minyak dunia kembali menguat setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengancam akan melancarkan serangan baru terhadap Iran. Kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan minyak dari Timur Tengah semakin meningkat, terutama setelah cadangan minyak mentah AS juga mengalami penurunan tajam.
Mengutip Bloomberg, harga minyak mentah Brent ditutup naik hampir 7,9% ke level US$90,74 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) bertahan di atas US$84 per barel setelah mencatat kenaikan harian terbesar dalam lebih dari dua pekan.
Ancaman Trump Kembali Tingkatkan Ketegangan
Trump mengatakan kepada Fox News bahwa Iran akan menerima serangan balasan yang lebih besar setelah serangan terhadap pasukan AS di Yordania. Pernyataan tersebut kembali memicu kekhawatiran bahwa konflik antara Washington dan Teheran masih jauh dari selesai.
Sejumlah pejabat dan mantan pejabat dari AS, Iran, serta Eropa menilai konflik berpotensi berlangsung selama berbulan-bulan. Hingga kini kedua negara masih belum menemukan titik temu terkait pengamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz maupun peluang tercapainya gencatan senjata yang lebih permanen. Kondisi tersebut membuat pelaku pasar kembali memasukkan premi risiko geopolitik (geopolitical risk premium) ke dalam harga minyak.
Cadangan Minyak AS Terus Menurun
Sentimen kenaikan harga minyak juga diperkuat oleh data pasokan dari Amerika Serikat. Persediaan minyak mentah komersial AS mencatat penurunan terbesar sejak pertengahan Juni, menandakan pasokan mulai mengetat di tengah tingginya ketidakpastian geopolitik.
Di sisi lain, cadangan minyak strategis Amerika Serikat (Strategic Petroleum Reserve/SPR) juga terus menyusut dan telah turun selama 18 minggu berturut-turut hingga mencapai level terendah sejak 1983. Penurunan tersebut mempersempit ruang pemerintah AS untuk meredam lonjakan harga apabila konflik semakin memburuk.
Risiko Pasokan Masih Tinggi
Pasar energi global masih dibayangi risiko gangguan pasokan dari kawasan Timur Tengah. Selain konflik langsung antara AS dan Iran, kelompok Houthi yang didukung Iran juga mengancam memperluas blokade terhadap jalur pelayaran di kawasan Laut Merah dan Arab Saudi. Sementara itu, pasukan yang didukung Riyadh bersama AS terus melakukan operasi militer terhadap kelompok bersenjata di Irak.
Kepala Strategi Komoditas Global TD Securities, Bart Melek, menilai pasar sebelumnya terlalu cepat mengasumsikan peluang perdamaian. Menurutnya, Iran masih bersikeras mempertahankan kendali atas Selat Hormuz sebagai bagian dari setiap potensi kesepakatan, sehingga risiko gangguan pasokan minyak global masih tetap tinggi.

