[Medan | 23 September 2026] Harapan baru bagi penyelesaian konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali muncul setelah pejabat kedua negara melakukan pembicaraan di sela-sela Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York. Presiden AS Donald Trump menyebut pertemuan tersebut berjalan sangat baik dan produktif, meski pada hari yang sama kembali mengeluarkan ancaman keras terhadap Iran.
Pembicaraan Berlangsung Selama Tiga Jam
Utusan Trump, Steve Witkoff, mengatakan pembicaraan dengan pihak Iran dilakukan melalui mediator yang berpindah antara kedua delegasi. Witkoff bersama Jared Kushner, menantu Trump, hadir sebagai perwakilan AS dalam pertemuan tersebut.
Keduanya sebelumnya terlibat dalam negosiasi dengan Iran sebelum kampanye militer AS dan Israel dimulai pada akhir Februari. Konflik tersebut kemudian meningkatkan ketegangan di Timur Tengah dan mengganggu pasar energi global.
Trump mengatakan pertemuan yang berlangsung sekitar tiga jam tersebut sangat produktif. Ia juga menyebut pertemuan lanjutan sedang direncanakan dalam waktu dekat. Namun, belum ada informasi resmi mengenai siapa saja perwakilan Iran yang hadir maupun rincian hasil pembicaraan tersebut.
AS Buka Ruang untuk Jalur Diplomasi
Witkoff menyampaikan optimisme terbatas setelah pertemuan. Dalam pernyataan melalui X pada Selasa (22/9) malam, ia mengatakan AS berharap pembicaraan tersebut dapat menghasilkan perkembangan yang konstruktif dan menjanjikan, sementara para mediator akan melanjutkan upaya mereka.
Perkembangan ini membuka kembali kemungkinan tercapainya kesepakatan untuk mengakhiri konflik. Namun, belum terdapat konfirmasi bahwa kedua pihak telah mencapai kemajuan substantif atau menyepakati kerangka penyelesaian. Sebelum tiba di New York, Trump juga sempat mengisyaratkan keterbukaan untuk bertemu langsung dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian.
Pernyataan Trump Tetap Keras
Sikap diplomatik tersebut muncul bersamaan dengan retorika keras Trump terhadap Iran. Dalam pidatonya di Sidang Umum PBB pada Selasa, Trump kembali memperingatkan Iran dan menegaskan bahwa AS dapat mengambil tindakan militer lebih lanjut apabila tidak tercapai kesepakatan.
Trump juga mengatakan konflik dapat berakhir apabila tercapai kesepakatan yang sesuai dengan tuntutan AS. Sebelumnya, pemerintah AS telah menyampaikan bahwa salah satu tuntutan utamanya adalah Iran menghentikan upaya pengembangan senjata nuklir. Selain isu nuklir, Washington juga menuntut perubahan terkait kendali Iran atas Selat Hormuz serta penghentian dukungan terhadap kelompok-kelompok yang menjadi mitra Iran di kawasan.
Iran Minta Keringanan Sanksi
Di sisi lain, Iran memiliki tuntutan yang berbeda dalam proses negosiasi. Para pemimpin Iran menginginkan keringanan atas sanksi berat yang telah diberlakukan AS selama bertahun-tahun. Iran juga menginginkan jaminan bahwa pemerintahan Trump maupun pemerintahan AS berikutnya tidak akan kembali melakukan serangan terhadap negaranya.
Perbedaan tuntutan tersebut menunjukkan bahwa ruang negosiasi masih cukup lebar. Gencatan senjata yang sebelumnya dicapai pada Juni juga belum berhasil menghasilkan penyelesaian konflik yang bertahan lama.
Negara Teluk Dorong Konflik Segera Berakhir
Di tengah perkembangan tersebut, Trump juga melakukan pembicaraan dengan pejabat negara-negara Teluk dan negara Timur Tengah lainnya di New York. Pertemuan tersebut melibatkan anggota Dewan Kerja Sama Teluk serta negara seperti Suriah, Irak, Yordania, dan Turki.
Negara-negara Teluk memiliki kepentingan langsung terhadap berakhirnya konflik karena serangan rudal dan drone serta gangguan terhadap lalu lintas di kawasan telah memengaruhi aktivitas ekonomi dan perdagangan.
Gangguan di Selat Hormuz menjadi salah satu perhatian utama karena jalur tersebut merupakan rute penting bagi pengiriman minyak dunia. Iran sejauh ini masih mempertahankan kendalinya atas selat tersebut, sementara kelompok Houthi di Yaman kembali mengancam pelayaran di Laut Merah.
Pasar Energi Menunggu Perkembangan Selanjutnya
Perkembangan diplomasi AS-Iran menjadi perhatian pasar energi karena setiap tanda deeskalasi berpotensi mengurangi risiko gangguan pasokan minyak dari Timur Tengah. Kemungkinan Iran membuka kembali akses Selat Hormuz jika tercapai kesepakatan juga sebelumnya ikut mendorong penurunan harga minyak Brent pada Selasa.
Meski intensitas konflik disebut telah menurun dibandingkan puncaknya pada Maret dan awal April, penyelesaian permanen masih menghadapi sejumlah persoalan, terutama terkait program nuklir Iran, sanksi AS, Selat Hormuz, serta dukungan Iran terhadap kelompok-kelompok di kawasan. Karena itu, pasar masih akan mencermati apakah pembicaraan di New York berlanjut menjadi negosiasi formal dan menghasilkan kesepakatan konkret, atau kembali terhambat oleh perbedaan tuntutan kedua negara.

