[Medan | 23 September 2026] Harga minyak mentah kembali melemah pada perdagangan Rabu (23/9/2026), didorong meningkatnya pasokan dari kawasan Teluk serta harapan terhadap penyelesaian konflik AS-Iran melalui jalur diplomasi.
Melansir Reuters, harga minyak Brent untuk kontrak berjangka turun 7 sen atau 0,07% menjadi US$99,18 per barel pada pukul 01.19 GMT. Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) turun 35 sen atau 0,39% menjadi US$90,17 per barel.
Arab Saudi Pulihkan Jalur Distribusi Minyak
Salah satu faktor yang meredakan kekhawatiran pasar adalah langkah Arab Saudi memulihkan operasional East-West Pipeline menuju Laut Merah. Pada Selasa (22/9), jalur pipa tersebut kembali beroperasi dan mulai menunjukkan peningkatan aliran minyak dari kawasan Timur Tengah.
Sebelumnya, serangan drone yang menurut Arab Saudi dilakukan oleh milisi Irak memaksa kerajaan menutup pipa tersebut pada 11 September. Penutupan itu sempat menghentikan pemuatan minyak mentah di pelabuhan Yanbu.
Jalur East-West Pipeline memiliki peran penting bagi Arab Saudi karena memungkinkan Riyadh mengalihkan sekitar 4 juta barel minyak per hari menuju Yanbu untuk mengurangi ketergantungan terhadap pengiriman melalui Selat Hormuz. Pemulihan jalur tersebut berpotensi meningkatkan fleksibilitas pasokan dan meredakan kekhawatiran pasar terhadap gangguan distribusi minyak global.
Harapan Diplomasi AS-Iran Menekan Harga
Sentimen positif juga datang dari perkembangan perundingan antara Amerika Serikat dan Iran. Presiden AS Donald Trump pada Selasa tetap mengeluarkan pernyataan keras terhadap Iran, tetapi di saat yang sama menyebut utusannya, Steve Witkoff dan Jared Kushner, telah melakukan pembicaraan produktif dengan mediator Iran.
Trump mengatakan terdapat momentum yang cukup besar untuk mencapai kesepakatan guna mengakhiri konflik yang telah berlangsung hampir tujuh bulan. Optimisme tersebut turut mendorong Brent ditutup di bawah US$100 per barel pada Selasa, untuk pertama kalinya sejak 8 September.
Tim Waterer, Kepala Analis KCM Trade, mengatakan kondisi pasar saat ini menunjukkan pandangan yang lebih konstruktif terhadap prospek pasokan minyak global dibandingkan beberapa pekan sebelumnya. Pertemuan delegasi AS dan Iran di New York juga memberikan harapan terhadap kemungkinan dimulainya kembali proses perundingan.
Irak Tingkatkan Ekspor Minyak
Selain Arab Saudi, peningkatan pasokan juga datang dari Irak. Menteri Perminyakan Irak Basim Mohammed mengatakan negaranya kini mengekspor lebih dari 3 juta barel minyak per hari. Ekspor melalui jalur Turki juga diperkirakan dapat meningkat menjadi lebih dari 600.000 barel per hari.
Data sementara dari perusahaan pelacak kapal Vortexa dan Kpler menunjukkan ekspor minyak mentah Irak pada Agustus masing-masing mencapai 2,3 juta barel per hari dan 2,17 juta barel per hari. Angka tersebut meningkat dibandingkan Juli, meskipun masih berada di bawah level sebelum perang pada Februari. Pada Februari, data Vortexa dan Kpler masing-masing mencatat ekspor Irak sebesar 3,7 juta barel per hari dan 3,362 juta barel per hari.
Persediaan AS Kembali Jadi Perhatian
Tekanan terhadap harga minyak juga berasal dari Amerika Serikat. Data industri menunjukkan persediaan minyak mentah AS meningkat sekitar 1,8 juta barel pada pekan yang berakhir 18 September. Kenaikan tersebut berlawanan dengan ekspektasi analis yang disurvei Reuters, yang memperkirakan persediaan minyak mentah AS justru akan menurun.
Pasar kini menunggu data resmi dari Energy Information Administration (EIA) yang dijadwalkan dirilis pada Rabu pukul 10.30 waktu AS atau 14.30 GMT. Data tersebut akan menjadi indikator tambahan mengenai kondisi permintaan dan keseimbangan pasokan minyak di Amerika Serikat.
Harga Minyak Masih Sensitif terhadap Perkembangan Konflik
Penurunan Brent ke bawah US$100 per barel menunjukkan mulai berkurangnya sebagian premi risiko yang sebelumnya tertanam dalam harga minyak akibat gangguan pasokan di Timur Tengah. Pemulihan jalur distribusi Arab Saudi, peningkatan ekspor Irak, serta peluang diplomasi AS-Iran menjadi faktor yang membantu meredakan tekanan tersebut.
Namun, pasar minyak masih sensitif terhadap perkembangan konflik dan kondisi distribusi melalui kawasan Teluk. Setiap gangguan baru terhadap produksi maupun jalur pengiriman berpotensi kembali meningkatkan kekhawatiran pasokan dan mendorong volatilitas harga.

