[Medan | 30 September 2026] Harga minyak bergerak stabil setelah mencatat penurunan terbesar dalam lebih dari sepekan. Pelemahan terjadi seiring munculnya tanda-tanda pemulihan pasokan minyak dari Timur Tengah yang kini mendekati level sebelum perang, didukung kembali beroperasinya aliran minyak Arab Saudi melalui jaringan pipa yang menghindari Selat Hormuz.
Pasokan Timur Tengah Kembali Mendekati Level Sebelum Perang
Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) bergerak di sekitar US$89 per barel setelah anjlok 3,5% pada sesi sebelumnya. Sementara itu, minyak mentah Brent ditutup di kisaran US$103 per barel. Menurut catatan analis JPMorgan yang dipimpin Natasha Kaneva, ekspor minyak mentah dari Timur Tengah telah pulih menjadi 17,5 juta barel per hari. Angka tersebut setara dengan 98% dari level sebelum perang.
Pemulihan pasokan tersebut terjadi setelah Arab Saudi kembali menyalurkan minyak melalui jaringan pipa East-West. Sejumlah sumber yang mengetahui situasi tersebut menyebutkan bahwa aliran melalui jalur tersebut telah mencapai sedikitnya 3,5 juta barel per hari, atau sekitar setengah dari kapasitasnya. Namun, pemulihan pasokan belum terjadi secara merata. JPMorgan mencatat pasokan produk minyak dari Timur Tengah, termasuk solar dan bensin, masih berada di level 58% dibandingkan kondisi sebelum perang.
AS Kembali Lepas Cadangan Minyak Darurat
Di tengah upaya menambah pasokan global, Amerika Serikat (AS) juga akan kembali melepas minyak dari cadangan daruratnya. Langkah tersebut diharapkan dapat membantu menambah pasokan sekaligus meredam lonjakan harga bahan bakar, kurang dari dua bulan sebelum pemilihan paruh waktu. Pelepasan hingga 40 juta barel tersebut akan menjadi bagian terakhir dari kontribusi AS sebesar 172 juta barel dalam pelepasan cadangan minyak global secara terkoordinasi sejak perang dimulai.
Harga Minyak Masih Berpotensi Naik Tiga Bulan Beruntun
Meski pasokan mulai pulih dan harga minyak mengalami koreksi, harga minyak masih berpeluang mencatat kenaikan bulanan selama tiga bulan berturut-turut. Pergerakan tersebut masih dipengaruhi oleh meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran, gangguan sebelumnya terhadap jalur alternatif Arab Saudi, serta potensi pembatasan ekspor solar oleh Washington. Harga Brent sendiri telah melonjak hampir 70% sepanjang tahun ini setelah konflik di Timur Tengah berlangsung selama lebih dari tujuh bulan.
OPEC+ Diperkirakan Pertahankan Kuota Produksi
Dari sisi produksi, sejumlah anggota utama OPEC+ diperkirakan akan mempertahankan kuota produksi minyak mentah untuk bulan depan dalam pertemuan yang akan berlangsung akhir pekan ini, menurut dua delegasi. Kelompok yang dipimpin Arab Saudi dan Rusia tersebut kemungkinan akan mengesahkan kembali rencana yang telah disepakati untuk mempertahankan target produksi pada November.
Pergerakan Harga Minyak
Pada pukul 06.01 waktu Singapura, kontrak minyak mentah WTI untuk pengiriman November tercatat turun 0,4% menjadi US$89,01 per barel. Sementara itu, minyak mentah Brent untuk penyelesaian November turun 2,6% dan ditutup pada US$102,59 per barel. Kontrak Brent yang lebih aktif untuk pengiriman Desember juga turun 1,7% dan ditutup pada US$96,16 per barel.

